Tiga SMA/SMK Tampung Siswa Inklusi


MALANG – Kota Malang memiliki layanan sekolah inklusi di jenjang SMA/SMK. Tiga sekolah yang membuka jalur inklusi yakni SMKN 2, SMKN 13, dan SMAN 9. Setiap sekolah memiliki kuota tersendiri dalam menerima siswa inklusi yang disesuaikan dengan sarpras dan tenaga pendamping.
“Ini sebagai wujud komitmen kami untuk memberi kesempatan bagi siswa inklusi mendapatkan pendidikan yang sama sesuai potensinya. Jadi mereka nanti juga masuk jurusan sesuai potensi bakat dan minatnya,” ujar Waka Humas SMKN 2 Malang Endang Widowati yang ditemui Malang Post, kemarin.
Endang menegaskan, siswa inklusi yang sudah terlayani di SMKN 2 Malang yakni tuna rungu, Autis, dan ADHD. Siswa yang memiliki kebutuhan khusus ganda masih berpeluang diterima, asalkan tergolong mampu menerima pembelajaran. Namun, dua tahun pelaksanaan PPDB sistem online belum terdata adanya siswa dengan dua jenis kebutuhan khusus.
“Tahun lalu, kami menerima 25-30 siswa dan tampaknya tahun ini akan diterapkan sama. Selama pendataan, dari tahun belum ada siswa dengan dua kebutuhan khusus,” ungkapnya.
Melihat dari tahun lalu, rata-rata calon siswa inklusi mengambil jurusan aplikasi perkantoran dan perhotelan. Hasil tersebut ditentukan tim setelah melalui assessment terhadap pendaftar sesuai potensinya. Sekolah juga menyiapkan kelas khusus untuk siswa inklusi. Di kelas ini siswa akan mendapat pembelajaran non produktif dan non akademik untuk melatih kemandirian siswa.
“Ruang khusus juga disiapkan untuk pembelajaran non produktif dan non akademik untuk melatih bina diri agar tidak tergantung dengan orang lain. Misalnya, siswa juga diajari memasak. Tentu dengan tenaga pendamping,” beber wanita berjilbab ini.
Mengingat embrio SMKN 2 Malang dulu memiliki jurusan perawat sosial, maka tak heran jika sekolah ini ditunjuk mengadakan pembelajaran inklusi. Pasalnya, mahasiswa jurusan perawat sosial ikut menjadi pendamping bagi siswa inklusi, sehingga sangat membantu situasi sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan inklusi.
Sejauh ini, PPDB berjalan lancar karena banyak yang sudah terbiasa dengan sistem online. Sehingga sekolah memaksimalkan website untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Meski banyak masyarakat yang datang langsung ke sekolah dan tetap terlayani. SMKN 2 Malang menyiapkan 19 rombel dengan 36 siswa setiap kelas dan jurusan yang masih menjadi favorit yakni keperawatan, hal ini dikarenakan jurusan tertua di Jawa Timur dengan setiap tahunnya mencapai 1000 pendaftar.
“Dengan sistem PPDB saat ini, kami dapat menerima siswa dengan sebaran yang lebih luas. Sehingga, semoga bisa melayani masyarakat dengan baik, karena SMKN 2 Malang terus meningkatkan SDM, sarpras, dan kini tengah menyelesaikan pembangunan lab wawancara, observasi, dan cooking,” tukas wanita asli Nganjuk ini.
Sementara itu, SMAN 9 Malang yang juga ditunjuk menyelenggarakan pendidikan inklusi di jenjang SMA juga telah siap menerima siswa. Sama seperti tahun lalu, SMAN 9 juga menyiapkan kuota lima siswa inklusi tahun ini. SMAN 9 menyiapkan peserta didik baru dengan 10 rombel.
“Kami membuka kuota lima siswa. Tidak banyak, karena kami harus menyeimbangkan antara fasilitas dengan tenaga pendampingnya. Secara sistem PPDB tahun ini lebih baik,” ujar Kepala SMAN 9 Abdul Tedy. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...