Peduli Petani Bawang Merah, Mahasiswa Kenalkan MOAT


MALANG - Produk karya mahasiswa UM menarik minat petani bawang merah di Nusa Tenggara Barat (NTB). Alat inovatif penangkap hama berupa lampu electric Moth Attractor Technology (MOAT) itu rencananya akan dipasarkan lebih luas untuk membantu para petani di Indonesia.
“Kami optimis bisa memproduksi massal dan membantu lebih banyak petani bawang merah di berbagai wilayah di Indonesia,” ungkap Yusuf Aji Wicaksono, mahasiswa Teknik Mesin yang menjadi salah satu anggota tim.
Menurutnya, alat tersebut juga sudah diaplikasikan pada petani di Desa Sumberbulu, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo. Ke depan tim akan menyumbangkan alatnya pada masyarakat Probolinggo sebanyak 20 unit.
Lebih jauh ia menjelaskan, MOAT dirancang untuk membantu keresahan petani bawang merah terhadap hama ngengat. Rancangan ini dilengkapi dengan desain yang portable dan rechargeable sehingga mampu dipindah sesuai keinginan petani sekaligus dapat digunakan untuk pemakaian dalam waktu lama.
“Alat ini dilengkapi dengan plastik di luar dan lem perekat yang mengandung campuran feromon sebagai pengikat hama, sehingga hama akan mendekat ke arah lampu dan akhirnya terperangkap pada alat,” ujar Yusuf kepada Malang Post.
Dijelaskannya, lampu MOAT juga dilengkapi dengan LED pilihan dengan bahan yang aman sehingga petani dapat menyentuhnya langsung tanpa takut tersengat listrik. Hal inilah yang menjadi keunggulan alat penangkap hama tersebut karena dirancang dalam bentuk non kabel. Desain yang portable dan rechargeable memudahkan petani menggunakannya di sawah tanpa repot.
“Penggunaannya mudah, petani cukup menaruh alat sesuai dengan daerah dimana hama sering muncul dan berkerumun, lalu menghidupkan MOAT dan ditinggal untuk istirahat. Hama yang tertangkap bisa diambil dan alat dicharge ulang untuk digunakan kembali hingga masa panen tiba,” urainya.
Biasanya, lanjutnya, satu petak sawah bawang merah dengan luasan 100 meter persegi, membutuhkan setidaknya 15-20 MOAT.
Tak hanya mudah dalam penggunaan alat, MOAT juga terbilang mudah perawatannya. Petani hanya diharuskan membersihkan sisa hama dan lem yang menempel pada alat dan tidak lupa untuk mencharge ulang setiap hari agar baterai selalu terisi penuh. Hal yang tak diperbolehkan yakni mengguncangkan alat, agar komponen di dalam tetap stabil dan aman. Pengecekan juga harus dilakukan secara berkala terkait kondisi komponen elektronikanya selama dua minggu sekali.
“Alat ini juga khusus untuk dinyalakan pada jam tertentu yakni 18.00 WIB-24.00 WIB. MOAT harus discharge selama tiga jam dan dapat digunakan dalam waktu delapan jam,” tuturnya.
Tim ini terdiri dari Yusuf Aji Wicaksono (Teknik Mesin), Dani Prasetiyo (pendidikan teknik mesin), Ardi lestari (teknik elektro), Himmatul Ulya Alfaratri (pendidikan Fisika), Dr Retno Wuladari, S.T., M.T. (Dosen Pembimbing), Eka Larasati Oktaviani (PG-PAUD). Di bawah bimbingan dosen FT Dr. Retno Wulandari S.T., M.T, diharapkan mahasiswa mampu bergerak aktif menanggulangi masalah di Indonesia dengan pemanfaatan Teknologi Tepat Guna, sekaligus bersaing  pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) hingga melaju PIMNAS 31 yang akan digelar di Jogjakarta nanti.
Saat ini, tim juga terus melakukan pengembangan MOAT, seperti dilengkapi dengan penambahan fitur RTC (Real Time Clock) dimana nantinya alat mampu menyala dan mati sesuai dengan waktu hama menyerang tanaman tadi yakni pukul 18.00 – 24.00 WIB. Dipastikan alat semakin memudahkan pengguna karena lebih praktis.
“Proses perancangan RTC adalah proses yang cukup susah. Tapi kami mengembangkan itu pada alat agar penggunaannya lebih praktis. Ke depan target kami dapat merancang sebanyak 50 unit, 20 unit diantaranya akan disumbangkan pada mitra di Probolinggo,” imbuhnya. (mg3/sir/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :