Indonesia Cocok Terapkan Pemikiran Ibn Khaldun

 
MALANG - Tak banyak yang mengenal Ibn Khaldun sebagai peletak dasar sosiologi Islam dengan karya-karya terbaiknya. Ibn Khaldun memiliki ciri khasnya dalam mengembangkan metode penelitian empirisme dan diimplementasikan sebagai fakta dan pengalaman bukan sekadar ide dan doktrin dari Islam yang normatif. Tokoh yang banyak menginspirasi dengan teori sosiologi mainstremnya yang menjadi gagasan baru cocok diterapkan pada kondisi Indonesia saat ini.
“Sudah cukup lama sejak 2002 membedah karya Ibn Khaldun, sehingga kami rindu cara pemahaman teori-teorinya dan perlu me-refresh kembali mengenai sosiolog muslim tersebut. Saya pikir jangan hanya bicara soal teori barat saja. Sekali-kali perlu dikembangkan pemikiran teoritis ilmuwan muslim,” ujar Sosiolog Gerakan Sosial, Rachmad K. Dwi Susilo, MA.,Ph.D yang ditemui Malang Post.
Rachmad menambahkan, tokoh sosiologi Islam perlu dikembangkan, direvitalisasi hingga diaktualisasikan kepada mahasiswa untuk membuka pikirannya dengan gagasan baru. Ibn Khaldun dipilih karena selain merupakan penemu teori metode penelitian sosiologi pertama, dia juga banyak memiliki kesamaan dengan teori barat. 
“Ibn Khaldun sebagai peletak dasar sosiologi islam merupakan politisi, intelektual, dan negarawan yang menuliskan karya-karya, salah satunya yang terkenal Al Mukadimah yakni pengantar tentang sejarah mengenai masyarakat Afrika Utara dan Andalusia yang membawa pengaruh dan inspirasi pada tokoh selanjutnya,” tegasnya.
Ketua Jurusan Ilmu Sosiologi UMM ini menegaskan dalam bedah buku tentang teori spesial karya Ibn Khaldun disajikan untuk mahasiswa mampu memahami latar belakang kehidupan, gaya berpikir sosiologinya, teori mainstream yang diciptakannya, serta mampu menggunakan teori itu dalam konteks kekinian. 
“Negara Indonesia sudah mengalami perubahan berkali-kali dan memiliki karakter antara teori lokalitas dan internasional. Lokalitas tak pernah hilang dan teori Ibn Khaldun itu banyak tentang lokalitas mengenai suku, masyarakat nomaden, dinasti hingga khilafah yang teorinya relevan untuk Indonesia saat ini,” tutur pria berkacamata ini.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UMM, Dr .Rinikso Kartono,M.Si juga menekankan pada perubahan mindset mahasiswa yang selama ini diceritakannya mengalami kolonialisasi pemikiran. Hal ini terbukti dari seluruh komponen kehidupan kini mengandung framing pemikiran barat. 
“Kita perlu merubah mindset cara berpikir dan belajar selama bertahun-tahun yang mengalami kolonialisasi dan direm oleh pemikiran barat. Tidak ada ruang dan tempat bicara diluar pemikiran barat. Bicara soal kualitas pendidikan manusia pada modernisasi ini begitu rapuh, maka kita perlu mendobrak pemikiran baru salah satunya melalui ilmuwan muslim,” tutup Rinikso. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...