Jelang Pengumuman UN SD, Diterpa Isu Penilaian yang Tak Objektif


 
MALANG – Hasil Ujian Nasional (UN) tingkat SD rencananya akan diumumkan, Senin (4/6). Di sisi lain, timbul kecemasan terkait hasil UN tahun ini. Sebab, untuk kali pertama, ada penambahan lima soal esai dengan tujuan meningkatkan logika berfikir siswa. Beredar informasi bahwa sistem koreksi soal esai ini bisa tidak objektif. Misalnya, karena korektor yang lelah atau tidak bisa membaca jelas jawaban karena tulisan siswa yang jelek. 
Seperti kemarin, dalam sebuah grup Whatsapp yang berisi wali murid kelas VI, dibeberkan sejumlah fakta terkait subyektivitas penilaian tersebut. Misalnya soal kesulitan membaca tulisan siswa yang cakar ayam (tak bisa dibaca,Red), hingga factor kelelahan korektor. 
Menanggapi hal tersebut, Kepala SD Brawijaya Smart School (BSS) Malang, Hari Budi Setiawan, M.Pdi, mengakui, pengoreksian lembar jawaban siswa yang menggunakan tenaga guru ini bisa bersifat tidak objektif. Memang ketika awal mengerjakan masih semangat, namun bagaimana jika sudah siang apakah masih semangat dan fokus belum lagi melihat tulisan siswa yang mungkin sulit untuk dibaca.
“Jika memang yang diharapkan siswa SD sudah bisa menjawab pertanyaan esai, maka mulai dari kelas I mereka dipersiapkan secara matang, mulai dari cara menulis dengan baik, menganalisis soal, dan menjawabnya dengan tepat,” ujar Wawan.
Pendapat berbeda dilontarkan Kepala SDN Percobaan 2 Malang, Jupri, M.Pd. Menurutnya, subjektivitas dari korektor sangat kecil terjadi, karena para korektor sebelumnya telah mendapatkan pengarahan menilai dengan benar.
Apalagi korektor diambilkan guru kelas VI atau yang pernah mengajar kelas VI, sehingga tahu arah jawaban yang dimaksud siswa. Di sisi lain, nama korektor dan Lembar Jawaban Uraian (LJU) siswa disusun sedemikian rupa supaya tidak terjadi guru mengoreksi LJU siswanya sendiri.
“Kecil kemungkinan guru menyalahkan atau memberi nilai rendah hanya karena alasan tulisan jelek, tidak jelas, atau sulit dibaca. Mengingat sudah enam tahun anak-anak belajar,” ujar Jupri.
Ia melanjutkan, soal uraian memang menjadi hal baru setelah sekian tahun ditiadakan. Sehingga, kata dia, banyak hal yang perlu dievaluasi. Seperti guru perlu memberikan perhatian khusus mengenai tulisan tangan pada siswa baik bentuk, ejaan, dan tanda baca. Korektor juga perlu dipilih dari guru yang kompeten mengenai karakteristik siswa sehingga tidak begitu saja menyalahkan jawaban siswa yang sulit dibaca tersebut.
“Jadi sangat kecil sekali kemungkinan korektor seperti itu, karena mereka juga sudah mendapatkan pengarahan, korektor satu lembar jawaban juga ada dua dan apabila ada selisih yang banyak masih ada korektor ketiga,” ujar Jupri.
Soal tulisan siswa yang sulit dibaca oleh korekto, menurutnya pasti ada. Namun, pasti mereka memiliki kejelian untuk membaca. Apabila nanti ada hasil UN yang kurang bagus bukan karena jawaban uraian, namun soalnya yang cukup menantang. (mg7/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...