Hebat, SD Unggulan Al-Ya’lu Terbaik di Kota Malang

 
MALANG – Pengumuman hasil Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) tingkat SD baru diluncurkan Senin (4/6) mendatang. Namun informasi mengenai peringkat terbaik berdasarkan nilai rata-rata sekolah sudah berhasil didapatkan Malang Post. Tahun ini SD Unggulan Al-Ya’lu kembali menjadi yang terbaik di Kota Malang itu. Artinya sekolah ini menjadi nomor satu selama sepuluh tahun berturut-turut.
Lima besar peraih nilai rata-rata tertinggi tersebut secara berurutan yakni SD Unggulan Al-Ya’lu dengan perolehan nilai total 260.5, SDN Model Kota Malang total nilai 240.48, SDN Madyopuro 1 total nilai 238.01, SD Insan Amanah total nilai 238.01, dan SDN Kauman 1 total nilai 237.76. Nilai tersebut diperoleh dari tiga mata pelajaran yakni Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA.
Kepala SD Unggulan Al-Ya’lu, Purnomosidi, S.Pd, M.Si, mengungkapkan rasa syukur atas prestasi yang diraih oleh peserta didiknya. Apa yang didapatkan saat ini tidak lepas dari dukungan banyak pihak seperti orang tua, guru, jajaran Dinas Pendidikan Kota Malang. Berkat dukungan itu semua siswa-siswi SD Unggulan Al-Ya’lu mampu mengembangkan diri mereka dan mengukir prestasi.
“Alhamdulillah SD Unggulan Al-Ya’lu pada tahun 2018 telah meluluskan 10 angkatan dan selalu meraih rata-rata tertinggi di Kota Malang,“ ujar Purnomo, sapaan akrab Purnomosidi, S.Pd, M.Si.
SD Unggulan Al-Ya’lu memiliki dasar misi bahwa hari akhir harus lebih baik dari hari awal. Dari misi inilah sekolah berkomitmen setiap tahunnya semakin baik lagi. Bahkan semangat belajar juga ditunjukkan oleh para peserta didik sehingga dapat memperoleh yang maksimal.
Bahkan siswanya berdasarkan kompetensi sudah menguasai hal-hal yang dipelajari dan diujikan. Memang bila dilihat secara keseluruhan nilai Kota Malang tahun ini menurun, namun SD Unggulan Al-Ya’lu masih memperoleh nilai rata-rata tertinggi.
“Kami sangat bangga kepada semangat anak-anak dalam belajar dan bersungguh-sungguh khususnya saat menghadapi USBN ini, semoga prstasi mereka ini juga bisa dilanjutkan pada jenjang pendidikan berikutnya,“ ungkapnya.
Menurutnya, dari hasil USBN tahun ini ada beberapa hal yang perlu dievaluasi yaitu adanya soal uraian. Di mana tipe soal tersebut tidak cocok untuk ujian akhir dengan berbagai pertimbangan. Seperti faktor subjektivitas korektor lantaran jawaban tersebut dikoreksi oleh guru dan masing-masing guru memiliki persepsi berbeda-beda.
“Apabila soal uraian ditujukan untuk soal High Order Thinking Skills (HOTS), pada kenyataannya soal tersebut belum mengarah ke sana dan soal HOTS pun sebenarnya bisa berupa pilihan ganda,” papar Purnomo.
Ia melanjutkan, soal uraian lebih cocok untuk tes ulangan harian dan ujian akhir semester. Dari hasil tersebut guru bisa mengevaluasi pemahaman siswa dan melakukan langkah-langkah perbaikan pembelajaran. Di sisi lain hasil pengerjaan soal uraian tidak bisa mengukur pemahaman siswa karena hasilnya cenderung jelek.
“Nilai siswa rendah karena faktor-faktor lain seperti tulisan, kejelian korektor dan lain-lain. Padahal secara substansi siswa bisa dan muatan kompetensi soal juga mudah,“ tandasnya.(mg7/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :