UM Tingkatkan 3 Plus 1 Program Internasionalisasi

MALANG – Gencarnya program internasionalisasi bagi perguruan tinggi negeri (PTN), mendorong Universitas Negeri Malang (UM) mulai meningkatkan program kerja sama luar negeri. Baru-baru ini UM juga mengembangkan kerja sama three plus one. 
Program tersebut merupakan kerja sama dalam hal pembagian tempat dan waktu perkuliahan mahasiswa antar dua negara. Meski telah mendobrak dalam program itu, UM dinilai masih jauh ke dalam tahap internasionalisasi. “Jika ditanya internasionalisasi, UM masih jauh kesana. Meski UM sebagai word class university, tapi perlu kesiapan yang matang terutama dalam hal sarpras untuk program internasionalisasi,” ujar Wakil Rektor 1 UM, Prof. Dr. Budi Eko Soetjipto, M.Ed., M.Si yang ditemui Malang Post, kemarin.
Menurutnya, UM juga tengah mengembangkan program kerja sama three plus one dengan China. Dengan sistem belajar mandiri tiga tahun di UM dan satu tahun di China, diharapkan dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa melalui sistem pembelajaran di luar negeri. Bahkan, keduanya siap menerima berapa pun mahasiswa yang menjalankan program three plus one tersebut.  “Kami siap menerima berapa pun mahasiswa dari China, begitu pula sebaliknya. Fakultas yang dinilai cukup aktif bekerjasama dengan luar negeri di UM yakni FMIPA,” ungkapnya.
Meski begitu, dia menilai UM berbeda dengan China dalam kaitannya kesiapan gedung penunjang. Diceritakan, jika di China menyiapkan satu gedung untuk mahasiswa luar negeri yang belajar disana. Berbeda dengan UM, yang belum memiliki gedung penunjang tersebut. Sehingga, dalam urusan internasionalisasi, sarpras penunjang perlu disiapkan agar program berjalan maksimal.
“Di China dan di luar negeri lainnya menyiapkan satu gedung khusus untuk mahasiswa yang berkuliah disana. Belum lagi, fasilitas difabel yang juga distandarisasi. Sementara di UM masih belum,” tuturnya.
Selain sarpras, pembenahan kurikulum juga perlu dilakukan untuk mengupayakan program internasionalisasi universitas. Penjamin mutu atau lembaga yang kredibel dan mumpuni sebagai penilai untuk melakukan standarisasi sangat diperlukan. “Kami sedang mengarah kesana, meski beberapa prodi di UM tengah melakukan pembenahan kurikulum. Ada lembaga yang kredibel seperti penjamin mutu yakni Asean University Network Quality Assurance yang melakukan standarisasi kurikulum,” tegasnya.
Tahun ini, UM akan melakukan Kemitraan Negara Berkembang (KNB) pada program Pascasarjana. Program tersebut berupa beasiswa yang akan diserahkan untuk calon mahasiswa dari luar negeri di kawasan negara berkembang. Mahasiswa yang telah menjalani seleksi nantinya akan bebas uang kuliah tunggal (UKT).
“Tahun ini UM merencanakan program KNB dengan prioritas mahasiswa di wilayah seperti Asia Afrika yang nantinya akan bebas UKT. Setidaknya, disiapkan kuota masing-masing tiga orang di setiap fakultas. Kami masih mengusulkan untuk penambahan bantuan biaya hidup bagi mahasiswa yang nantinya akan menerima beasiswa tersebut,” tutupnya. (mg3/udi)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...