100 Persen Lulusan Terserap Kerja di PLN


MALANG - Suatu kebanggan bagi SMK PGRI 3 Malang, sebanyak 30 siswa kelas industri PLN CSR mampu terserap kerja 100 persen di PT. PLN (persero). Para siswa ini telah memiliki kompetensi sesuai standar perusahaan, bahkan mereka telah lulus sertifikasi kompetensi LSK User PLN beberapa waktu lalu.
Kompetensi para siswa tersebut telah teruji lantaran sejak kelas X hingga kelas XII telah menjalani proses pembelajaran di listrik distribusi sesuai kurikulum yang dikembangkan SMK PGRI 3 Malang dan PLN Pusdiklat. Mereka diajar oleh 10 guru tersertifikasi dan telah mengikuti proses pelatihan dan sertifikasi di PLN Udiklat Bogor selama satu bulan.
Kepala Bidang Kerjasama Industri SMK PGRI 3 Malang, Ervin Kurniawan, S.Kom, mengungkapkan kerja sama dengan PLN ini terjalin selama 4 tahun, jadi ini angkatan pertama kelas industri PLN CSR. Sejak kelas X, kurikulum disinkronkan antara SMK PGRI 3 dengan PT. PLN sehingga siswa tidak mempelajari kurikulum nasional saja, melainkan ada tambahan kurikulum dari perusahaan tersebut.
“Kurikulum sinkronisasi ini diberikan kepada siswa sejak kelas X, jadi semuanya harus sesuai standar PT. PLN mulai dari praktek, SOP, tampilan diri, dan K3nya sehingga secara tidak langsung kami serap 100 persen budaya industry di PLN,” ujar Ervin.
Bahkan, sesekali SMK PGRI 3 Malang juga mengundang industri tersebut untuk memberikan materi sekolah dan industri di kelas X. Sedangkan untuk praktek kerja industri (prakerin) dilaksanakan pada kelas XI selama satu tahun di PT. PLN.
Kerja sama selama 4 tahun ini karena tiga tahun sebagai proses belajar mengajar sedangkan tahun keempat digunakan untuk evaluasi apakah siswa kelas industri mampu terserap 100 persen atau tidak. Untuk melihat indikator keberhasilan dari kelas industri ini yakni dilihat berapa persen siswa terserap di perusahaan tersebut.
“PLN CSR merupakan salah satu dari sekian banyak kelas industri yang menyumbangkan keberhasilan programnya, 100 persen anak-anak terserap kerja tanpa harus menunggu lama bahkan sebelum ijazah keluar,” papar Ervin.
Faktor pendukung keberhasilan dari program kelas industri PLN CSR disamping akademik yakni kesehatan. Dimana fisik siswa harus benar-benar sehat 100 persen, bahkan mereka harus mengatur pola makan, tidak sering begadang, tidak merokok, alcohol, dan narkoba, hingga menghindari makanan cepat saji.
“Kesehatan ini menjadi faktor penunjang terpenting selain kurikulum, intinya harus menjaga pola makan dan pola hidup sehingga saat medical check up kolesterol stabil tidak ada hipertensi, paru-paru dan jantung juga bagus,” terangnya.
Keberhasilan kelas industri PLN CSR membuat SMK PGRI 3 Malang semakin memperbanyak kelas industri, seperti halnya tahun ajaran baru 2018/2019 sekolah akan membuka empat kelas industri baru. Jurusan Animasi kerja sama dengan Roleplay Studio, Teknik Sepeda Motor kerja sama dengan Yamaha, Elektronika Industri untuk  Hotel Engineering Class kerja sama dengan Swiss Belinn Hotel, dan level operator membuka kerja sama dengan PT. Surabaya Autocomp Indonesia (SAI) untuk wiring harness class.
Khusus Hotel Engineering ini belum ada di kurikulum nasional, namun bidang ini banyak dibutuhkan oleh perhotelan, sehingga SMK PGRI 3 Malang memberanikan diri membukanya. Sama seperti dengan kelas industri lainnya yakni kurikulum disinkronkan dengan industri kerja sesuai dengan kebutuhan dan standar perusahaan.
“Banyaknya kelas industri ini diharapkan bisa menyerap kerja lebih banyak, tahun ini dari total 821 siswa, sebanyak 332 peserta didik sudah mendapatkan kerja, 109 sudah dinyatakan lolos Perguruan Tinggi, 90 anak masih mencari kampus, 8 siswa berwirausaha, dan 270 masih menunggu recruitmen,” pungkas Ervin. (mg7/adv/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...