Mahasiswa UB Temukan Alat Terapi Kanker Payudara


MALANG -  Muhammad Dheri Maulana Akbar, mahasiswa Teknik Elektro bersama dengan Hanna Shobira Iqomatul Haq dari jurusan Bioteknologi  Universitas Brawijaya (UB) berhasil membuat suatu temuan alat terapi kanker payudara. Diberi nama  ALTERKARA, alat ini menggunakan ekstrak ciplukan yang diintegrasikan dengan teknologi uap dan gel etanol yang ditembakkan ke pusat kanker melalui medium pendispersi sinar ultraviolet.
Dilatar belakangi oleh tingginya jumlah kematian karena kanker payudara dengan satu wanita meninggal tiap dua jam, maka dirinya membuat suatu terobosan baru dalam pengobatan penyakit ini. Selama ini, menurut Dheri, pengobatan kanker masih melalui tiga cara yakni kemoterapi, pengangkatan, dan penyayatan dengan resiko efek pengobatan dan angka kesakitan yang relatif tinggi. Ekstrak etanol ciplukan sebagai obat kanker payudara sendiri telah diteliti dan dipatenkan sebelumnya oleh guru besar bidang  kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) Prof. DR. dr. Handayani, M.Kes. Hasilnya, ekstrak etanol ciplukan dapat menekan kanker sebesar 75 % dari stadium 2 lanjut menjadi golongan A atau kanker stadium 1B dalam 6 bulan dengan pemakaian yang rutin.
"Namun, obat oral herbalpun juga hanya memiliki efek sebesar tujuh persen karena harus masuk ke lambung terlebih dahulu, penyerapan di usus, baru masuk ke ginjal, hati, baru masuk ke pusat kanker. Padahal,  untuk kasus kanker payudara stadium apapun, diperlukan penangangan yang cepat," kata Dheri.
Proses pengobatan dengan Alterkara ini yakni dengan memanaskan ekstrak etanol ciplukan. Setelah membentuk uap air nano, maka akan bereaksi dengan gel etanol di ujung alat, sensor laser ultraviolet akan langsung aktif. Selanjutnya, ekstrak ciplukan akan ditembakkan menuju pusat kanker payudara. Alat ini juga dilengkapi vibrator dengan efek getaran 1, 3, dan 5 Hz sebagai efek refleksi dan relaksasi sekaligus sebagai stimulus penembakan sinar yang terdapat pada sistem alat. Sehingga dapat dikatakan, alat ini menghindari rugi daya reaksi obat atau efek toksik obat bila diminum secara oral. Metode ini juga tidak mempengaruhi jantung, tekanan darah, atau efek samping dari obat herbal.
Yang menarik, selama proses pengobatan, pasien diperdengarkan lantunan ayat Alquran yakni Al Fatihah, Al Hasyr ayat 21-24, Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nas. Alasannya, karena surah Al- Hasyr memiliki arti yang dahsyat untuk metode ruqyah. Sedangkan lainnya dipakai karena sesuai dengan anjuran dzikir pagi dan petang Rasulullah. Audio ayat-ayat tersebut bersama dengan tafsir dan hadisnya telah masuk dalam aplikasi Alterkara yang telah tersedia di playstore.
"Setelah alat dan aplikasi dinyalakan dan setting timer panjang gelombang laser, frekuensi pijatan dan kapasitas tubuh dilakukan, maka secara otomatis audio murotal akan aktif. Lantunan Alquran ini untuk menambah ketenangan jiwa dan kepasrahan, juga hadis untuk meminimalisir faktor psikologi yang muncul," urainya.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ekstral etanol ciplukan dapat menekan kanker sebesar 75 persen dari stadium 2 lanjut menjadi golongan A atau kanker stadium 1B dalam kurun waktu pemakaian enam bulan rutin. Juga, dari hasil uji menyatakan jumlah kematian sel kanker meningkat dari 18 ribu menjadi 30 ribu. Protein pembentuk kanker juga menurun dari 28 menjadi 17.
Menurut Azril, pengobatan kanker saat ini dikenal hanya melalui tiga cara yakni kemoterapi, pengangkatan, dan penyayatan. Masing-masing memiliki resiko efek pengobatan  dan angka kesakitan yang relatif tinggi. Diharapkan dengan alat ini dapat menekan rasa sakit, dapat sembuh dengan waktu yang singkat, dan minim efek samping. Alat buatannya pun sudah terkalibrasi secara presisis dan akurat dalam aproksimasi data sampling sehingga meminimalisisr terjadinya human error.
"Jadi dosis ciplukan konsul dokter nanti dapat digunakan pribadi di rumah, juga tidak bersifat menyakiti seperti halnya kemoterapi," lanjutnya.
Dibawah bimbingan dosen Ir. Nurusa’adah, MT, Alterkara berhasil meraih Juara II kompetisi MTQ UB XII Kategori Karya Tulis AlQuran. Ke depan untuk produksi masal, akan dilakukan koordinasi dengan  petani ciplukan dan produksi ekstrak ciplukan sendiri. Untuk paten, Alterkara sedang dalam masa pengajuan hak paten melalui dirjen HAKI. (mg19/oci)

Berita Lainnya :