Gandeng Kepolisian, SMK PGRI 3 Bina Kos-kosan


MALANG – Jalin bina lingkungan, SMK PGRI 3 Malang bersinergi bersama dengan Polsek Lowokwaru untuk mengedukasi sebanyak 145 pengusaha kos-kosan dan kuliner di lingkungan Tlogomas. Hal ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan kondusif termasuk pencegahan pergaulan bebas, konsumsi miras, hingga tindakan kriminal yang dilakukan baik oleh pelajar, maupun mahasiswa.
“Saat ini, sedang marak terjadi ada pelajar yang pergi ke apotik untuk mencari alkohol sebagai campuran minuman karena mencari miras cukup susah. Miras menjadi kejahatan awal yang dilanjutkan dengan pergaulan bebas hingga tindakan kriminal,” ujar Kapolsek Lowokwaru Polres Malang Kota, Kompol Pujiyono SH yang ditemui Malang Post, kemarin.
Kompol Pujiyono membeberkan, pentingnya edukasi kepada pengusaha kost-kostan dan kuliner di lingkungan Tlogomas, untuk mampu menjaga adat budaya ketimuran dan mengajarkan pendatang baru agar beradaptasi juga. Sehingga dapat terjalin sinergi yang maksimal antara lingkungan masyarakat dan para pendatang baru tersebut.
“Kami sering menggalakkan ngopi atau ngobrol pinter sekaligus untuk melakukan operasi miras di lingkungan sekitar. Kami juga tak bosan memberi saran dan imbauan pada pengusaha kost dan kuliner agar menjaga lingkungan tetap kondusif,” ungkap pria berkacamata ini.
Selain dapat mengedukasi warga lingkungan RT 1 dan 2 RW 5 Kelurahan Tlogomas ini, SMK PGRI 3 Malang yang setiap tahun melaksanakan bina lingkungan berharap mampu mengambil peran dalam keamanan, ketertiban dan kebersihan, terlebih 40% siswa SMK PGRI 3 tinggal di kos di daerah tersebut.
“Kami tak ingin anak-anak terlalu jauh dengan lingkungan yang tak baik. Sehingga kami ingin berperan serta meningkatkan kepedulian dari warga terhadap anak kos terkait pergaulan bebas, narkoba, dan minuman keras. Dari total 2.600 siswa, hampir 1600 siswa SMK PGRI 3 yang kost di wilayah lingkungan Tlogomas ini.
Terlebih maraknya doktrin radikalisme yang terjadi, upaya investigasi dan monitoring terhadap seluruh siswa juga dilakukan sekolah. Namun, di lingkungan tempat tinggalnya, peran serta warga sangat dibutuhkan untuk pemantauan pada pergaulan bebas dan perilaku yang melanggar hukum lainnya.
“Saat di sekolah tidak kelihatan karena berpenampilan biasa, tapi tak  menutup kemungkinan di lingkungan kos-kosan, siswa ikut kelompok tertentu yang sulit diawasi oleh sekolah. Sehingga diperlukan peran warga untuk melakukan pemantauan. Selain itu, kami juga ingin lebih dekat dengan warga di lingkungan sekitar,” imbuh Lukman. (mg3/adv/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...