UKBM Harus Distandarisasi


MALANG – Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM) yang telah diterapkan kepada seluruh siswa SMAN kota Malang terus dievaluasi. Tahun kedua pelaksanaanya masih dinilai belum optimal, sebab kesiapan mulai dari perangkat bahan ajar, kesiapan guru, dan siswa  terus ditingkatkan. Termasuk pemberian motivasi kepada siswa agar mampu menyelesaikan UKBM sesuai kompetensinya.
Di dalam kelas pada UKBM akan terbagi menjadi tiga kategori siswa sesuai sistem SKS 2017 yakni cerdas istimewa, normal, dan kurang. Meski begitu, siswa tidak dikelompokkan dalam satu kelas, tetapi tetap pada kelas heterogen. Guru memiliki tugas untuk membagi tiga kategori melalui UKBM sebagai penuntun belajar siswa melalui modul dan buku.  Sehingga siswa sudah dapat menyelesaikan secara mandiri UKBM sesuai kompetensinya yang didampingi oleh guru. Pada pelaksanaannya, seluruhnya tergantung dorongan siswa, orang tua, guru kelas dan BK.
“Kalau diterapkan pada siswa sebenarnya ini hal yang positif karena dapat membuat siswa lebih aktif dan mewujudkan sistem pembelajaran student centered learning system. Namun semua ini bergantung pada pada banyak kondisi, mulai dari perangkat yang ditingkatkan, bahan ajar, kesiapan guru dan siswa,” papar Pakar Manajemen Pendidikan UB, Dr Fadillah Amin kepada Malang Post.
Kaprodi S1 Administrasi Pendidikan FIA UB ini mengaku, bahwa sekolah dalam hal ini guru mata pelajaran harus mempersiapkan materi pembelajaran buku teks, sehingga siswa dapat lebih aktif mempelajari, mendiskusikan dan menganalisis, serta mengembangkan ilmunya secara mandiri.
“Materi juga perlu distandarisasi dan penerapannya tergantung sekolah masing-masing. Guru juga harus mengikuti perkembangan siswanya, dengan mengakses pembelajarannya dimanapun, agar peranan siswa tidak pasif. Kendala utama sebenarnya adalah pelaksanaan UKBM di daerah pinggiran,” ungkapnya Amin.
Sementara itu, Pembantu Dekan 1 FKIP Unisma, Sri Wahyuni MPd juga menegaskan pelaksanaan UKBM yang berhasil memang tergantung dari sekolah masing-masing. Hal utama yang harus dipersiapkan tentu bahan ajar sesuai kompetensi dasarnya. Sehingga sekolah perlu gencar melakukan sosialisasi pelaksanaannya termasuk motivasi kepada siswa agar bersemangat dalam menyelesaikan UKBMnya lebih cepat.
“Mengikuti kapasitas masing-masing, UKBM ditujukan untuk memberi penghargaan bagi setiap siswa, karena setiap siswa memiliki kompetensi sesuai kecepatannya masing-masing. Sekolah perlu sosialisasi termasuk kepada orang tua agar seluruh pihak dapat saling memotivasi. Tentu siswa yang lebih pintar dapat selesai lebih cepat, sehingga dapat terbentuk pemikiran siswa jika sungguh-sungguh belajarnya akan cepat selesai,” tutup Yuni. (mg3/oci)

Berita Lainnya :