Belum Ideal, Capaian Siswa Belum Maksimal


MALANG - Kalau di SMP ada SKS, SMA menerapkan sistem pembelajaran Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM). Tahun ini adalah tahun kedua bagi seluruh SMA Negeri di kota Malang. Sistem pembelajaran model lama pada 1990-an ini dikenal dengan nama Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Sayangnya, dalam praktiknya  masih menemui berbagai kendala.
“Hingga saat ini penerapannya belum ideal, padahal unit kegiatan belajar mandiri bertujuan memberi kesempatan secara ilmiah agar mampu cepat menyelesaikan UKBM secara berkelanjutan tanpa harus menunggu yang lain,” ujar Ketua MKKS SMAN Kota Malang, Tri Suharno MPd kepada Malang Post, kemarin.
Kepala SMAN Taruna Nala ini mengaku dalam praktiknya, UKBM memiliki berbagai kendala mulai dari bahan ajar, peserta didik, hingga guru. Dari segi siswa, tak jarang masih menunggu temannya dalam penyelesaian UKBM. Terlebih, tingkat keaktifan siswa juga berbeda tergantung pada setiap mata pelajaran tertentu.
“Di SMAN 3 pun yang memiliki siswa tergolong cerdas istimewa, kompetensinya tidak banyak muncul. Sehingga, UKBM harus terus meningkatkan kompetensi baik dari segi guru atau peserta didik. Guru seharusnya mampu mendorong anak berpikir tingkat tinggi dan aktif dengan daya analisis lebih baik. Kalau penerapan di SMAN Taruna Nala memang sudah disetting harus selesai tiga tahun,” ungkap pria berkacamata ini.
Sedangkan, Kepala SMAN 5, Anis Isrofin MPd membeberkan, pada pelaksanaannya, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) bertugas menyusun UKBM pada setiap pembelajaran yang akan digunakan untuk seluruh SMA Negeri di kota Malang. Kebijakan dari Direktorat ini, jelas harus terus ditingkatkan dan dievaluasi pada in house training dengan guru menyampaikan berbagai kendala yang ditemui pada pelaksanaan UKBM.
“Evaluasi bagi hal yang masih kurang akan ditingkatkan, seperti melakukan bedah Kompetensi Dasar (KD). Misalnya, dalam satu tahun pelajaran matematika memiliki 11 UKBM, nantinya akan dibagi 11 kelompok, sedangkan dalam satu KD bisa saja terdapat lebih dari 1 UKBM, sehingga variasi akan disesuaikan KD,” beber PLT Kepala SMAN 8 itu.
Sebenarnya, pelaksanaan UKBM adalah tantangan tersendiri bagi guru untuk memberi layanan kepada peserta didik untuk mampu menyelesaikan UKBM sesuai kompetensinya. Selain itu, ada tambahan dan penugasan untuk menunjang ketertinggalan siswa. Namun pelatihan guru untuk pendampingan juga harus terus dilakukan. Penyusunan UKBM perlu diberi penguatan dalam hal administrasi dan tata kelola SKS.
“Ini hal baru yang perlu dikenalkan terus pada siswa. Tidak ada istilahnya tidak naik kelas, tapi harus menyelesaikan UKBMnya. Sehingga tak hanya guru, siswa yang memiliki kompetensi lebih, nantinya akan menjadi tutor sebaya untuk siswa lain yang membutuhkan,” imbuhnya. (mg3/oci)

Berita Lainnya :