Pentas Drama Kolosal Meriahkan HUT Sekolah

 
MALANG - SMA Katolik Frateran memperingati Hari Ulang Tahunnya yang ke-29, Rabu (16/7) lalu. Sejak pukul 07.30 WIB, para siswa menikmati serangkaian acara HUT berserta guru dan pengurus Yayasan Mardi Wiyata. Acara dimulai dengan kegiatan ibadah misa sebagai tanda syukur akan karunia Tuhan dengan keberadaan lembaga pendidikan yang berdiri pada tahun 1988 silam ini. 
Selanjutnya kegiatan HUT dilanjutkan dengan pertunjukan pentas seni yang mengusung konsep budaya Indonesia bagian tengah. Budaya yang dipilih adalah budaya dari Pulau Dewata Bali. Seni yang ditampilkan berupa drama kolosal yang menceritakan  kisah terbunuhnya Calon Arang. Yang memiliki makna yaitu segala hal yang buruk telah hancur dan berubah menjadi yang hal baik-baik saja. 
Para siswa yang terlibat peran terlihat totalitasnya dalam bermain. Diantara mereka tidak segan untuk mencat tubunya dengan tinta hitam agar terlihat semakin sempurna dengan karakter yang diperankan. Diiringi musik gamelan dan akusitik membuat drama berjalan semakin unik dan eksotis, mencerminkan sejumlah etnis budaya Indonesia. 
“Konsep acara HUT tahun ini kami ambil dari budaya Indonesia Tengah. Tahun lalu yang kami angkat budaya Indonesia Timur. Agar supaya sebagai generasi bangsa anak-anak semakin mengenal dan cinta akan budaya Bangsa Indonesia,” ujar Yosephin Lilin Setyowati, S.Pd selaku ketua panitia. 
Selain itu, Lilin Yosephin Lilin Setyowati panggilan akrab  mengatakan, diangkatnya konsep budaya nusantara karena siswa-siswi SMAK Frateran berasal dari berbagai daerah di Tanah Air. Tidak hanya Jawa saja, tapi juga ada yang dari ujung Sumatera hingga Papua. 
“Kami tidak ingin karakter bangsa ini hilang. Meraka yang berasal dari luar Jawa juga jangan sampai buta akan budaya daerah asalnya,” ucapnya.   
Ia berharap di usia sekolah yang telah mencapai 29 tahun saat ini, menjadi lembaga yang mampu mencetak generasi yang jujur, peduli dan bertanggungjawab. 
“Di usia yang semakin dewasa, kami berharap para guru juga semakin dewasa dalam menyikapi tantangan global. Termasuk para siswa semoga menjadi pribadi-pribadi yang berkembang dan berkarakter lebih bagus, sehingga bisa membangun bangsa ini di tengah kebhinekaan yang luar biasa,” tuturnya.
Sementara itu, Drs. Markus Basuki, M. Pd selaku Kepala Sekolah yang baru menjabat sejak awal tahun pembelajaran baru ini bertekad ingin mengembalikan ruh SMAK Frateran. Dengan cara membina siswa menjadi anak muda yang tangguh, tidak hanya di akademik tapi juga dalam kepribadian dan keimanan. “Itu yang ingin kami bangkitkan. Bukan hanya akademik, bukan hanya olimpiade. Tapi karakter yang membangun menjadi individu yang tangguh,” ucapnya. 
Kunci untuk mencapai tujuan tersebut, menurut mantan Kepala SMPK Frateran ini, adalah kekompakan di jajaran guru. Sebab dari segi potensi, guru-guru SMAK Frateran dinilainya sangat berpotensi. 
“Potensi itu besar. Kalau sudah kompak saya kira gampang untuk diajak maju,” imbuhnya.  
Markus juga mengatakan, SMAK Frateran memang sekolah yang didirikan oleh lembaga milik Gereja. Akan tetapi sekolah ini tetap sekolah umum yang nasionalis. Sekolah yang melayani semua kalangan masyarakat dengan berbagai kultur budaya dan agama. “Bukan untuk satu agama saja. Kami mengabdi kepada Nusa Bangsa, miniatur dari persaudaraan sejati,” pungkasnya. (imm/sir/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :