Semangat Nasionalisme dan Spiritualisme di SD Plus Al-Kautsar


NASIONALISME dan Spiritualisme menjadi tema dalam peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 di SD Plus Al-Kautsar, tahun ini. Tema tersebut diangkat untuk menanamkan jiwa cinta tanah air kepada peserta didiknya. Sekaligus mengajarkan bahwa Islam punya andil besar dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.
Kepala SD Plus Al-Kautsar Dr. Dhiah Saptorini, S.E., M.Pd. menerangkan, bagaimana besarnya perjuangan para pahlawan Islam yang dengan gigih turun ke medan perang. Segala bentuk pengorbanan telah mereka berikan kepada Bumi Pertiwi. Harta dan segenap jiwa raga telah diabdikan untuk kemerdekaan Republik Indonesia.
“Kita harus tahu bahwa agama Islam mempunyai andil besar dalam perjuangan bangsa ini. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh para kyai dan ulama terdahulu beserta para santrinya,” ungkapnya.
Untuk menanamkan jiwa nasionalisme, SD Plus Al-Kautsar menggelar upacara kemerdekaan pada (17/8) lalu, yang sekaligus sebagai puncak acara dari rangkaian kegiatan yang dilaksanakan sejak dua hari sebelumnya. Dalam upacara tersebut, sekolah mengusung tema nusantara. Sebagaimana digambarkan oleh seluruh siswa yang mengenakan pakaian busana adat dari berbagai daerah di Indonesia. Sangat beragam dan terlihat indah sebagaimana pelaksanaan upacara di Istana.
Sementara itu upacara pengibaran bendera merah putih berlangsung khidmat. Anggota  paskibraka yang merupakan siswa-siswi pilihan sukses menjalankan tugasnya dengan baik. Sebelumnya mereka telah menjalani seleksi secara bertahap. Hingga beberapa terpilih dan dipercaya untuk mengibarkan Sang Merah Putih di bumi SD Plus Al-Kautsar.
Kegiatan upacara diakhiri dengan pembagian hadiah dan fashion show yang diikuti oleh 2 siswa perwakilan dari setiap kelas. Melalui momentum bersejarah ini, sekolah mengenalkan kembali kepada siswa akan keanekaragaman budaya Indonesia. Fashion busana adat yang ditampilkan siswa menjadi pembelajaran secara langsung bahwa Indonesia terdiri dari berbagai jenis suku, agama dan adat istiadat.
Sementara itu, Dhiah Saptorini memaknai kemerdekaan dalam lingkup pendidikan adalah bebas untuk mengembangkan potensi para siswa sesuai dengan karakteristik dan keunikannya masing-masing.
“Bebas di sini bukanlah sesuatu yang tidak terbatas, tetapi bebas yang bertanggungjawab”, jelas Rini, sapaanya.
Sebenarnya nuansa kemerdekaan di SD Plus Al Kautsar sudah digaungkan sejak pekan lalu, tepatnya pada Senin (7/8). Dengan harapan peserta didik lebih memahami dan merasakan suasana hari kemerdekaan. Hal ini diwujudkan dalam beberapa kegiatan, seperti membuat dekorasi bendera, menyanyikan lagu nasional secara bersama-sama, serta memberikan beberapa kuis yang berkaitan dengan kepahlawanan dan kemerdekaan yang diintegrasikan dalam pembelajaran.
Akhmad Nur Shalih, S.Pd Ketua Pelaksana mengatakan, lomba yang diselenggarakan tidak hanya untuk siswa, tapi juga diikuti para guru. Lomba untuk siswa antara lain lomba balap karung, bakiak, makan kerupuk, tarik tambang, memindahkan air dalam spon, dan memindahkan bendera.
Sedangkan lomba untuk guru terdiri dari lomba balap karung, bakiak, dan memasak. Selain untuk meramaikan kegiatan tersebut, adanya lomba bagi guru juga sebagai sarana untuk menguji kekompakan dan kerja sama antar guru.
“Tujuan dari rangkaian kegiatan ini adalah untuk menanamkan rasa nasionalisme, menciptakan kekompakan dan semangat kerja bersama,” ungkapnya. (imm/sir/oci)

Berita Lainnya :