Kompak, Tiga Sekolah Ramaikan Kirab Budaya


MALANG - Tiga lembaga di bawah naungan Yayasan Mardi Wiyata membuat kejutan. Lebih dari 1000 siswa dan guru, gabungan dari SDK Mardi Wiyata 1, SMPK Frateran dan SMPK Frateran menggelar pawai dalam rangka memeriahkan HUT Ke-72 Kemerdekaan RI. Aksi mereka sempat membuat Jalan Oro-oro Dowo macet sebagai lokasi start pemberangkatan pawai. Ditambah antusiasme masyarakat sekitar yang begitu besar ingin melihat secara langsung rombongan kirab budaya dengan kostum busana adat nusantara yang beraneka ragam.
Guru dan siswa dari SDK Mardi Wiyata 1 menggunakan pakaian adat Indonesia bagian barat, SMPK Frateran Indonesia bagian timur dan SMAK Frateran Indonesia bagian tengah. 
“Ini baru pertama kali kita gelar bersama. Ternyata respon seluruh pihak begitu besar,” ucap Edik Joko Yuhono, S.Pd, Kepala SDK Mardi Wiyata 1.
Ia mengatakan, melalui kegiatan karnaval dan kirab budaya tersebut, pihaknya ingin mengenalkan kembali budaya bangsa yang selama ini lebih banyak ditinggalkan. Apalagi saat ini sekolah memiliki tugas untuk mengembangkan pendidikan karakter. Maka karakter yang cocok dalam membangun sikap Cinta Tanah Air, adalah karakter nasionalisme. “Salah satunya mencintai budaya bangsa, seperti kegiatan kirab budaya ini sebagai wujud nyatanya,” tambah Edi.
Kepala SMPK Frateran Fr. Faustinus, BHK, S.Pd mengatakan kegiatan pawai bersama merupakan awal untuk mempersatukan tiga lembaga Yayasan Mardi Wiyata yang berada dalam satu komplek. Bahkan ke depannya, ia berharap ada banyak lagi kegiatan yang digelar bersama-sama. Seperti kegiatan ret-ret guru, kemah bersama dan rekreasi bersama.
“Kami ingin komplek ini  menjadi satu dengan kebersamaan.  Karena selama ini masih berjalan sendiri-sendiri,” ucapnya.
Usai acara pawai peringatan kemerdekaan RI, Faustinus berharap agar siswa semakin tekun belajar agar cita-cita mereka tercapai. Ia juga menghimbau agar jajaran guru dapat membangun sistem yang solid sehingga menghasilkan generasi muda yang cerdas dan berkarakter.
Sementara itu, Drs. Markus Basuki, M.Pd, Kepala SMAK Frateran mengatakan arti merdeka  menurutnya adalah saat bangsa ini sudah mampu memberdayakan Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alamnya sendiri. Selama Indonesia belum bisa memberdayakan sumber daya ini berarti belum bisa dikatakan merdeka secara penuh. “Maka ini sebenarnya perjuangan kami para guru untuk mempersiapkan generasi masa depan untuk mencapai merdeka dalam arti sesungguhnya,” kata dia.
Ole karena itu, Markus menambahkan, pihaknya memiliki tugas mengembangkan pendidikan karakter supaya peserta didik memiliki kesungguhan dan semangat juang yang tinggi. “Mereka adalah calon-calon pemimpin di era yang baru. Kalau mereka tidak sunguh-sungguh kita akan selamya terjajah,” tambahnya.
Ia juga sangat setuju peringatan kemerdekaan RI dilakukan secara terpadu oleh tiga lembaga. Sebab SDK Mardi Wiyata 1, SMPK Frateran dan SMPK Frateran merupakan satu keluarga di bawah satu yayasan. “Justru kami ingin mengajak berjuang bersama, kalau kita berjuang sendiri tidak akan kuat. Tapi kalau kita berjuang bersama dalam kekompakan maka semuanya menjadi enteng,” tukasnya. (imm/sir/oci)

Berita Lainnya :

loading...