Unidha Miliki Lembaga HAKI


MALANG - Bulan ini Universitas Wisnuwardhana Malang (Unidha), akan mempunyai lembaga hak kekayaan intelektual (HAKI) di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unidha. HAKI ini akan berfungsi untuk mematenkan hasil-hasil temuan dosen Unidha yang belum dipatenkan.
Ketua LPPM UNIDHA Dr. Eny Dyah Yuniwati, S.P., M.Pd mengungkapkan, pihaknya telah lama merencanakan pendirian sentra KI (Kekayaan Intelektual) ini. “Kami semua memang di dorong oleh Dikti untuk bisa menghasilkan HAKI,” ungkap dia.
Pendirian HAKI ini dinilai akan memberikan manfaat yang besar bagi kampus UNIDHA Selain meningkatkan akreditasi kampus, nantinya masyarakat luas juga bisa mendaftarkan karya maupun produk mereka disini.
Ia mengatakan, sejak tahun 2016, sudah mengajukan hibah. Namun, upayanya tersebut belum berhasil. Sehingga, mulai tahun ini HAKI harus diupayakan terbentuk. Menurutnya, semua penelitian dan pengabdian itu harus di patenkan.
Rektor Unidha, Prof Dr Suko Wiyono, SH. MH bercita-cita, melalui langkah kecil ini temuan dosen di seluruh universitas di Indonesia bisa mulai terdorong untuk segera dipatenkan. Selain itu, lanjutnya ia juga mulai mewujudkan harapan dari Kemenristekdikti yang selalu mendorong semua dosen di Indonesia untuk mematenkan hasil penelitian mereka.
Rektor yang juga menjabat sebagai Ketua Senat UM ini berharap, setelah beroperasi mulai bulan Agustus ini, HAKI yang dimiliki Unidha bisa mematenkan beberapa hak paten dosen. Menurutnya, mematenkan hasil penelitian dosen, mempunyai manfaat yang beragam. “Kalau untuk personal civitas akademik, ini bisa digunakan untuk kenaikan jabatan fungsional. Misalnya seorang profesor tidak memiliki paten rasanya kurang nilainya,” ujarnya.
Ia melanjutkan, adanya HAKI ini juga menghindari budaya plagiasi yang sering beredar dikalangan civitas akademik. Ia berharap, dengan adanya HAKI ini, budaya plagiasi semakin dimusnahkan. Selain itu, untuk masyarakat luas pengajuan hak intelektual dan hak cipta ini dapat digunakan agar pihak lain tidak bisa seenaknya meniru produk atau ciptaan tersebut.
“Misalnya membuat buku. Jika ini tidak dipatenkan ya bisa saja besok orang lain membuat buku sama dengan isi yang sama, tapi nama berbeda. Kita harus waspada itu,” pungkasnya. (sin/udi)

Berita Lainnya :

loading...