SMAI Sabilillah Belajar Sejarah dengan Treatikal


MALANG – Perjuangan para Pahlawan merebut Kemerdekaan tidak cukup dimaknai hanya lewat literasi saja. Di SMA Islam Sabilillah, peringatan HUT Republik Indonesia dikemas dalam berbagai acara, salah satunya dengan menampilkan kreasi teater cerita perjuangan Pahlawan.
Selama lima menit, siswa harus menampilkan drama kreasi sesuai dengan tema yang telah ditentukan sekolah. Totalitas, kostum pemain juga disesuaikan dengan cerita. Skenario dibuat sendiri oleh siswa.
Waka Kesiswaan SMAI Sabilillah Malang, Agus Budiono mengatakan, pagelaran treatikal ini sebagai aplikasi pembelajaran sejarah. “Untuk tema Sutan Syahrir, siswa memainkan peran drama Perjanjian Linggarjati, misalnya. Tema Fatmawati bisa diceritakan saat menjahit bendera. Dengan bermain peran, mereka akan lebih bisa belajar sejarah dalam konsep yang berbeda dari sekedar membaca. Dengan total 13 cerita, harapannya mereka bisa belajar 13 sejarah Pahlawan tersebut,” katanya.
Tak sekedar tampil, siswa juga harus bermain secara total mengingat penampilan mereka akan dinilai oleh pihak juri dari Majelis Orang Tua Siswa dan guru. Tema cerita diberikan satu hari sebelumnya, sengaja ditujukan untuk menguji kesiapan siswa. Dengan penentuan tema tersebut, diharapkan siswa dapat berfokus untuk mengulas sejarahnya.
Tak hanya treatikal, pagi harinya siswa melakukan pawai Kemerdekaan dengan rute di sekitar sekolah. Mengenakan kostum sesuai dengan tema yang telah ditentukan, kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan masyarakat akan partisipasi aktif warga sekolah dalam perayaan Kemerdekaan RI.
“Siswa diasah kekompakkannya dalam kegiatan ini. Kostum juga telah kami tentukan sehingga semuanya bertema sama dalam satu kelas. Ada yang berkostum Soekarno, Fatmawati, Kartini, atau Pangeran Diponegoro,” sambungnya.
Bagi siswa yang mendapatkan tema Pangeran Diponegoro, mereka cukup mengenakan baju jubah putih sesuai karakternya yang juga sebagai ulama. Sedangkan siswa-siswinya terlihat cantik dan anggun mengenakan kebaya yang dipadu dengan jarik batik.
Selain pawai, juga digelar lomba yel-yel tema Kemerdekaan, lomba menyusun puzzle cerita sejarah, egrang, spider web, dan memasukkan paku ke dalam botol. Setiap lomba ditujukan untuk kolaboratif siswa per kelas. Pada lomba menyusun puzzle, satu kelompok siswa yang terdiri dari tiga teman sekelas harus menyusun puzzle bergambar sejarah Kemerdekaan dan kemudian menceritakan maksud dari gambar tersebut. Contohnya, gambar sejarah Bandung Lautan Api.
Memupuk kekompakan, siswa beradu pada permaina Benteng SMAI Sabilillah yang meliputi rangkaian perlombaan egrang, lalu berlanjut di memasukkan paku ke dalam botol, spider web, dan yang terakhir, siswa harus berlari menuju mahat putra untuk mencari bendera merah putih. Kelas yang menang adalah mereka yang mendapatkan bendera dalam waktu paling singkat.
“Pembelajaran karakter cinta bangsa dan tanah air dikemas dalam berbagai acara tersebut, juga cinta keunggulan meliputi rasa berkompetisi satu sama lain,” imbuhnya.
Selain lomba-lomba tersebut, SMAI Sabilillah juga menggelar lomba fotografi bertema Kemerdekaan. Dilombakan secara individu, kegiatan ini dilakukan sekaligus untuk mencari bibit-bibit bakat fotografi baru. Lomba poster dapat dilakukan dalam bentuk poster digital maupun dalam gambar tangan.
Salah satu siswa kelas 11 IPA 2, Maulidatus Sabrina kemarin membawakan peran sebagai orator dalam drama Dewi Sartika. Uniknya, dia membawakan orasi dalam bahasa Sunda, sesuai dengan asal Dewi Sartika. Semua skenario hingga berlatih mendalami alur cerita, dilakukan Sabrina dan teman-temannya dalam waktu satu hari saja.
“Seru banget acaranya, karena kita jadi terasah kreativitasnya untuk membuat drama, penyusunan skenario, dan lainnya. Kita juga bisa bielajar sejarah secara mendalam karena harus mereplika ulang apa saja yang sudah mereka lakukan dalam perjuangannya untuk Indonesia,” pungkasnya. (mg19/sir/udi)

Berita Lainnya :

loading...