Siswa Olah Limbah Kecambah Jadi Pupuk Daun


MALANG – Dari judulnya yang rumit, ternyata penelitian ketiga siswi SMPK Kolese Santo Yusup 2 sangat sederhana, menarik, dan aplikatif. Memanfaatkan kecambah yang banyak terbuang di area dekat sekolah, mereka membuat suatu zat untuk menyelamatkan tanaman yang hampir mati.
Berjudul ‘Pengaruh Usapan Kecamba Ekstrak Endosperm Kacang Hijau terhadap Klororisis,’ ketiga siswa tersebut yakni Micelle Angelina Hendri, Kezia Dianita Alfaridzi, dan Gabriel Maharani Prita Purbasari. Kepala kecambah yang memiliki kandungan gizi tinggi dan merupakan tempat cadangan makanan bagi kecambah baru, diekstraksi dengan cara dihaluskan, diberi air lalu kemudian disaring. Cairan ekstrak kecambah kemudian dioleskan di bagian belakang permukaan daun tanaman yang hampir mati.

“Kebetulan saat itu penelitiannya dilakukan setelah libur sekolah, jadi banyak tanaman yang daunnya kekuningan dan hampir mati. Setelah dua minggu diolesi ekstrak kecambah ini, ternyata tanaman bisa segar lagi, daunnya hijau kembali,” ujar Guru Pembina ketiganya, Hendro Argono, S.Pd., M.M.A

Sebagai objek penelitian, digunakan tanaman bambu rezeki karena sangat responsif terhadap berbagai jenis perlakuan. Perlakuan yang diujikan yakni tanaman yang dibiarkan tanpa perlakuan, tanaman yang diberikan ekstrak kecambah dengan disiramkan pada akar, dan mengoleskan ekstrak di bagian bawah daun yang merupakan mulut tanaman. Pengolesan ekstrak memberikan hasil yang paling maksimal diantara ketiganya.
“Dari hasil penelitian ini kemudian bisa direkomendasikan sebagai pupuk daun. Sudah ada produk lain untuk pupuk semacam ini, tapi keunggulan kami adalah tidak perlu proses fermentasi atau ditambah dengan zat lain. Metodenya sangat mudah, sederhana, dan bisa dilakukan semua orang,” urai Hendro.

Karena itulah, penelitian ini menjadi juara pertama dalam Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kota Malang beberapa waktu yang lalu, dan ketiga penelitinya akan bertanding di ajang serupa di tingkat nasional, tahun depan. Hendro mengatakan, yang menjadi poin lebih dari juri dalam penelitiannya yakni sangat aplikatif dan kental dengan keilmuan biologi.

“Penelitian kami ini sederhana dan sesuai dengan jenjang ilmu di SMP. Istilahnya, bukan penelitian yang ketinggian untuk anak SMP. Topiknya juga sesuai dengan materi dan mengambil dari masalah yang berada di sekitar kita,” sambungnya.

Meski baru kali ini mengukuti ajang LPIR, suatu kebanggan yang luar biasa ketiga siswanya dapat langsung menembus hingga ke tingkat nasional. Hendro berharap prestasi siswanya dapat terus melaju dan menjadi inspirasi bagi siswa lain untuk berkarya dan meneliti. (dbl/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...