Pengadaan Sumur Bor Atasi Krisis Air


MALANG  – Sejak dulu warga Desa Sumberagung Kecamatan Sumbermanjing Wetan memperoleh air bersih dari sumber mata air. Namun sumber mata air yang ada tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan air warga desa setempat. Topografi Desa Sumberagung yang tergolong kering membuat daerah ini sering dilanda kesulitan air.
Untuk memenuhi kebutuhannya, warga harus membeli air bersih dari mobil keliling dengan harga yang tergolong mahal. Yaitu Rp 60 ribu  – Rp 70 ribu untuk 1000 liter air. Ini membuktikan bahwa air bersih bukanlah barang gratis yang bisa didapatkan bebas di desa ini. Belum kalau musim kemarau, warga akan semakin tersiksa dengan paceklik air.
‘’Pernah terealisasi program Adaptasi Perubahan Iklim (API) dari Amerika tentang pengadaan pipa paralon. Yaitu dengan menyalurkan air dari sumber air di daerah Krajan menuju ke rumah-rumah warga. Tetapi program ini berhenti beroperasi akibat masa kontraknya habis.Selain itu juga ada program dari WESLLEK yang merupakan dana hibah tahun 2002 untuk pengadaan air bersih,’’  ungkap Suratemin Kepala Dusun Tanjung Desa Sumberagung kepada Malang Post.
Sulkhan Indra Nurwijaya selaku ketua pelaksana program kerja pengadaan sumur bor menjelaskan, meskipun berbagai program yang sempat terealisasi berusaha untuk memecahkan masalah krisis air bersih, namun semuanya masih belum efektif dan bersifat jangka pendek. Manfaat yang dirasakan masyarakat juga hanya sementara. Dari masa ke masa warga Desa Sumberagung memanfaatkan sumber air terdekat. Namun debit air yang ada tidak bisa mencukupi kebutuhan warga.
Maka dari itu, lanjutnya, KKN 158 UMM berusaha untuk membantu dan memberdayakan masyarakat Desa Sumberagung agar dapat menikmati air bersih. KKN 158 UMM berfokus untuk melaksanakan program Sumur Bor di Desa Sumberagung, khususnya untuk RW03. Pengadaan Sumur Bor dengan kedalaman 30 meter ini merupakan cara untuk mendapatkan suplai air bersih yang paling tepat.
‘’Karena air yang berasal dari kedalaman tersebut telah memiliki kualitas air yang bagus. Baik dari segi tingkat pencemarannya yang rendah, jernih, tidak berasa, tidak berbau, dan mudah disalurkan ke masyarakat desa. Itu karena cara memperolehnya yang sangat mudah serta manfaat jangka panjangnya yang dapat bertahan lama,’’ terangnya mantap.
Noer Putri Wijayanti selaku bendahara menjelaskan, selain pengadaan Sumur Bor, KKN 158 UMM juga melakukan pemberdayaan kepada warga Desa Sumberagung agar menjadi masyarakat yang mandiri. KKN 158 UMM menyusun sistem iuran warga dengan struktur organisasi yang tepat sehingga dapat terlaksana dengan baik.
‘’Penetapan iuran berdasarkan pada 1 m3 sama dengan Rp1000. Sehingga selama satu bulan sebesar 25 m3 adalah Rp 25.000 yang harus dibayarkan warga desa. KKN 158 UMM berharap program ini dapat menjadi Unit Air Bersih Desa yang bermanfaat secara jangka panjang,’’ harapnya.
Rahmad Denny Setiadi Koordinator desa KKN 158 UMM menambahkan, program pengadaan Sumur Bor yang berfokus pada RW 3, tentu rawan terjadinya kecemburuan sosial pada warga RW 1, 2 dan 4. Namun KKN 158 UMM berhasil mengatasi persoalan tersebut dengan memberikan pengertian kepada masing-masing RW setempat.
‘’Program ini akhirnya mendapat apresiasi yang luar biasa dari Bank Indonesia. Semoga apa yang sudah kami lakukan dan kerjakan selama sebulan di Desa Sumberagung ini bisa bermanfaat bagi masyarakat setempat,’’ pungkas Rahmad. ‘’Kemarin kita juga menggelar pengobatan gratis,’’ pungkasnya.(adv/lim)

Berita Lainnya :