Biasa Teliti Hal Sepele

Prof. Muhammad Yazid bin Jalaludin, dosen Sastra Inggris Universitas Negeri Malang (UM) ini mendapatkan gelar guru besar di usianya yang masih relatif muda, yakni 40 tahun. Tak hanya itu saja, Yazid juga punya cara lain untuk mendapatkan kredit tittle dalam publikasi jurnalnya.
Untuk mendapatkan gelar guru besar, ia tidak melakukan penelitian  formal melalui lembaga penelitian kampus, serta tidak melalui dana penelitian dari kementerian. Yazid cukup membuat artikel dengan intuisi dan kepekaan yang ia miliki sebagai seorang ahli linguistic. Kesehariannya, ia jadikan sebagai bahan data untuk diteliti.
Yazid sadar, ia mempunyai cita-cita yang besar. Ia ingin memaksimalkan potensi untuk menjadi seorang guru besar sesegera mungkin.

Namun, saat itu ia baru saja lulus dari program doctor dan harus mengemban tugas sebagai sekretaris jurusan Sastra Inggris. Tugas yang diembannya tersebut membuatnya sedikit ragu dan pesimis, apakah meraih puncak karir sebagai guru besar sesegera mungkin. Sebab, menurutnya, tugas sebagai sekretaris jurusan adalah melayani, dengan setulus hati.
“Saya menjalankan tugas itu dengan sepenuh hati. Tapi saya juga berfikir harus menjalankan tugas saya juga sebagai dosen. Seorang pendidik yang harus bisa menghasilkan karya untuk dibaca,” kata pria kelahiran Kediri ini.
Yazid yang merasa tidak mempunyai waktu untuk melakukan penelitian formal, memanfaatkan kepekaannya sebagai seorang dosen. Ia mengkaji dan meneliti setiap kejadian sehari-hari yang ia alami.

Misalnya, ada sebuah fenomena di setiap ujung semester mahasiswa diminta isi komentar evaluasi untuk tiap dosen. Karena online, dosen tidak tahu siapa nulis apa.
“Kala itu saya mengajar kelas analisis wacana, semester 3, dan dua kelas speaking semester 5. Di Kelas analisis 80 persen saya dikomentari negative. Di kelas Public Speaking saya dikomentari positif,” jelasnya.
Dari situ, ia menganalisis data dan menghasilkan sebuah temuan, jika penerimaan bahasa tergantung dari faktor generasi dan usia. Artikel itu yang dia masukkan ke publikasi jurnal ilmiah.
Ia melakukan hal itu rutin dan berkala hampir setiap bulannya ketika ia menemukan sesuatu yang ada disekitarnya, dijadikan penelitian. Menurutnya, hal-hal sekecil apapun jika dikaji akan menjadi manfaat. Yazid mampu mengumpulkan hampir 500 kredit title, dari hasil penelitian ringkasnya itu. Jumlah itu yang mampu membawanya menjadi guru besar di usianya ke 40 tahun.
“Kejadian apapun, sekecil apapun, ketika kepekaan dan intuisi saya mengatakan itu perlu dikaji dan mempunyai manfaat, saya akan buat dan upload artikelnya,” ungkap dia. (sin/oci)

Berita Lainnya :