Kemendikbud Monitoring PPK SMP Muhammadiyah 2


MALANG – Sebagai sekolah piloting Penerapan Pendidikan Karakter, SMP Muhammadiyah 2 Malang tak setengah-setengah menerapkan lima karakter unggulan dalam keseharian siswanya.
Berjalan cukup lama, Marjono mengaku sejauh ini tidak ada kendala yang berarti dalam pelaksanaan PPK. Peran orang tua siswa juga berjalan dengan baik, juga siswa terlihat menikmati setiap proses pembelajaran.
SMP Muhammadiyah 2 Malang kedatangan empat orang tamu dari Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memantau pelaksanaan PPK di sekolah tersebut. Mereka terlihat bertanya pada beberapa komponen sekolah, antara lain guru dan siswa mengenai proses pembelajaran dengan penguatan PPK, juga mengambil beberapa gambar area sekolah.

“Sudah dua kali ini kami mendapatkan kunjungan ini dan kami terima apa adanya. Mungkin untuk mencari testimoni bagaimana berjalannya PPK sendiri di sekolah-sekolah, mengingat di lapangan banyak adanya pro dan kontra. Namun untuk di sekolah kami, semuanya lancar tidak ada masalah,” kata Marjono.

Untuk program full day school sendiri, SMP Muhammadiyah 2 telah menjalankan program ini selama enam tahun, jauh sebelum adanya program dari pemerintah. Program K-13 juga sigap ditangkap oleh sekolah pada awal masa peluncurannya.

“Kemudian sekarang diperkaya lagi dengan pendidikan karakter, kami justru ditunjuk sebagai piloting. Dan Alhamdulillah program-program tersebut bagus untuk pembinaan akademik dan karakter siswa di sekolah. Selama ini berjalanh dengan baik,” sambungnya.
Lima karakter yakni nasionalis, religious, integritas, kemandirian, dan gotong royong di sekolah nampak dari jadwal kegiatan siswa dalam satu hari pembelajaran. Sikap gotong royong sekaligus kemandirian ditetapkn melalui program piket membersihkan kelas, nasionalisme disisipkan melalui lagu-lagu nasional yang terdengar dari pengeras suara di sekolah. Juga, nilai religious ditanamkan kental, mengingat dasar sekolah sebagai sekolah Islam.

Menggempur peningkatan siswa tak cukup bila tanpa keikutsertaan guru. Marjono mengaku, meski tergolong sekolah kecil, namun sistem dibangun dengan profesional. Sistem penggajian guru dilakukan melalui bank, dan pengajaran dijaga melalui kualitas guru.

“Kami tidak segan-segan memberhentikan guru yang tidak profesional. Kami terus evaluasi kinerja mereka. Yang tidak sanggup, dipersilahkan mundur. Tahun ini saja kami sudah memberhentikan dua orang guru,” ujarnya.
Dengan semboyan ‘Tiada Hari Tanpa Inovasi’, artinya sekolah akan terus membuat inovasi sekecil apapun setiap hari, dimulai dari guru hingga sarana prasarananya.
Meski begitu, SMP Muhammadiyah 2 Malang masih terganjal pada dana yang dijanjikan untuk turun pada sekolah piloting PPK.
“Kami harap dananya segera turun agar kami bisa segera meniindaklanjuti program-program yang telah kami agendakan dalam proposal, seperti pelatihan dan pengimbasan ke sekolah lain. Namun dengan keterbatasan yang ada ini, kami tentu tidak boleh lelah mengupayakan yang terbaik untuk anak-anak,” tutup Marjono.
Meski termasuk agenda besar, nyatanya PPK diterima dengan senang hati oleh siswa SMP Muhammadiyah 2. Salah satunya Deva Awang Fathir.
“Kalau PPK nya kami senang, soalnya mudah dan nggak terasa berat karena dilakukan bareng-bareng. Kami santai saja dan tidak terasa,” ujar siswa kelas 8C ini. (ras/sir/oci)

Berita Lainnya :