Tak Sekedar Manasik, Tapi juga Jelaskan Sejarahnya


MALANG – Berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini, manasik haji di SMA Islam Sabilillah Malang dilalui dengan rute yang lebih panjang. Alasannya, agar siswa benar–benar bisa merasakan dan melaksanakan manasik haji, seperti halnya melaksanakan ibadah haji sebenarnya.
Jarak antar pos dipanjangkan, dibandingkan dengan tahun lalu sehingga siswa banyak membaca talbiyah seperti halnya haji sebenarnya. Agar atmosfernya lebih terasa, siswa mengenakan beragam aksesoris sesuai dengan negara yang dipilihnya. Biasanya, mereka memilih negara Islam yang melaksanakan ibadah haji.
“Masing-masing kelas diundi sesuai dengan negara yang berbeda, supaya benar – benar merasakan keanegaraman negara di tanah haram, dan menunjukkan pembelajaran yang kontekstual,” ujar Wakasek Kesiswaan SMA Islam Sabililah Malang, Agus Budiono, S.Pd.
Agar siswa dapat khusyuk dalam menjalankan manasik haji, di setiap pos terdapat dewan juri yang akan menilai setiap gerakan dan bacaan mereka dimulai dari niat, haji, wukuf, mabit di Mina dan Muzdalifah sampai pos terakhir yakni tahallul. Dewan juri terdiri dari guru dan Majelis Orang tua Siswa.
Tak sekedar manasik, peserta harus bisa menjelaskan sejarah dan penjelasan dari tempat tersebut. Ini untuk merasukkan pembelajaran berbasis 4C, yakni critical thingking, creative, collaborative, dan communicative yang menjadi salah satu keunggulan di LPI Sabilillah.
“Perwakilan kelas dituntut untuk bisa menjelaskan sejarah dan latar belakang dari kegiatan haji, mulai dari niat haji sampai tahallul di depan teman- teman kelasnya dan dewan juri, dan ini merupakan aplikasi dari critical thingking,” ujar Agus.
Memasukkan nilai kreatif, siswa harus bisa menjadi bagian dari negara yang diundi dan bisa menjaga kekompakan kelas. Siswa juga diminta untuk membuat videografi terkait pelaksanaan manasik haji dari masing – masing kelasnya.
 “Kami melihat para siswa disini suka membuat dan mengedit video pendek, maka kemampuan mereka kami beri wadah melalui kegiatan videografi manasik haji, dan mereka harus bisa mengedit sendiri videonya tanpa harus dibantu orang lain,” kata Agus.
Menurutnya, kegiatan manasik haji ini merupakan perpaduan dari kegiatan akademik melalui praktik manasik haji sebagai aplikasi dari pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan kegiatan non akademik yang diwujudkan dalam lomba videografi. Selain itu, kegiatan ini sebagai bentuk dari aplikasi karaktek cinta Allah dan Rasul serta cinta keunggulan dari para siswa.
Sementara itu, M. Hafiz Pratama, Siswa kelas X MIPA 1 mengatakan, dengan kegiatan manasik haji ini, mampu mengasah kefahamannya dalam pelaksanakan ibadah haji. “Saya sudah melakukan kegiatan manasik haji dua kali, dan setiap kali kegiatan selalu mengingatkan pada gerakan dan bacaan manasik haji. Karena jika materi ini hanya dipelajari di kelas tanpa praktik rasanya sangat kurang sekali,” ujarnya, usai melaksanakan kegiatan manasik haji. (ras/sir/udi)

Berita Lainnya :