Demam Korea, Siswa SMPN 23 Gagas Revolusi Mental


MALANG – Maraknya budaya Korean-Pop atau yang lebih dikenal sebagai k-pop di kalangan anak muda membawa keprihatinan tersendiri. Saking senangnya dengan budaya ini, banyak siswa yang mulai menggunakan bahasa Korea dalam percakapan sehari-hari hingga gaya hidup mengikuti artis kesukannya.

Hal tersebut terungkap dari penelitian yang dilakukan oleh tiga siswa SMPN 23 Malang, Adelia Sani Rivenda, Aurellua Viera Maulin, dan Sherin Dwi Priscylia. Mereka membuat penelitian dengan objek teman sekelasnya. Dari angket yang dibagikan, terlihat jelas bahwa kesukaan siswa pada k-pop berpengaruh pada komunikasi interpersonalnya.

“Dengan menggunakan objek teman sekelas, hasil angketnya menunjukkan kalau 82 persennya suka dengan K-Pop ini. Mereka hampir setiap hari ngobrol dengan teman-temannya menggunakan bahasa Korea dan suka beli barang-barang yang berbau Korea,” ujar Adelia.

Ukuran suka pada penelitian ini dilihat dari seberapa sering siswa membicarakan K-Pop, mengunggah gambar idolanya ke sosial media, dan menonton tayangan berbau K-Pop. Hal postif yang dapat diambil, tentu membuat siswa dapat belajar bahasa asing. Namun diharapkan tidak melupakan budaya-budaya dalam bangsa sendiri. Terlebih, beberapa tayangan seperti film Korea, misalnya, belum sesuai untuk ditonton siswa SMP.

“Ada beberapa dari mereka yang suka menghabiskan waktu untuk menonton tayangan Korea yang isinya belum sesuai untuk anak SMP. Kadang ada juga teman yang sampai menangis karena sangat menghayati kesukaannya dengan K-Pop ini,” kata dia.

Ide yang fresh, juga faktor keterdesakan yang dimuat dalam penelitian ketiganya membuat mereka dihadiahi gelar juara ketiga dalam Lomba Penelitian Siswa Nasional (LPSN) yang diadakan oleh Dindik Kota Malang beberapa saat yang lalu di bawah bimbingan Ferry Ardianto.

“Ditambah lagi, ide ini sesuai dengan program revolusi mental yang digagas oleh pemerintah,” imbuhnya.

Hasil penelitian tersebut membuahkan beberapa poin ide yang harus segera dicanangkan, diantaranya menyemarakkan video di akun youtube dengan budaya Indonesia. Karena menurut mereka, teman-teman penyuka K-Pop selalu mengakses konten K-Pop melalui youtube.

“Buat para youtuber, sebaiknya bisa mulai mengisi kontennya dengan hal-hal yang kental dengan budaya Indonesia, jadi bisa menjadi daya tarik biar teman-teman juga mulai suka dengan budaya milik sendiri juga. Pemerintah juga bisa membuat kurikulum program cinta tanah air,” imbuhnya.

Bagi lembaga berwenang, menurut ketiganya, memiliki andil untuk membuat program-program kebudayaan memiliki kemasan yang lebih menarik. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :