Makin Akrab Karena Komunikasi

SEBAGAI wakil kepala sekolah bagian kesiswaan, kedekatan dengan siswa tentu sangat diperlukan. Sharing ide, merumuskan konsep acara yang baru, tak akan terjalin dengan lancar tanpa adanya komunikasi dan kedekatan. Dua bulan menjabat sebagai Wakasis, Wawan Pramunadi, M.Pd, mengaku banyak hal yang dapat dipetik dari siswanya.

“Ide anak-anak sebenarnya sangat luar biasa, meski kadang perlu dibakar agar terus berinovasi dan tidak hanya mengacu seperti tahun yang lalu. Ketika sharing tentang suatu konsep acara dan kendala yang dihadapi, ternyata dari mereka sendiri telah muncul solusinya, meski masih memerlukan pendampingan,” ujarnya.

Sebagai contoh, dalam gelaran akbar PSCS mendatang yang membutuhkan banyak biaya, siswa telah memiliki ide mengumpulkan dana dengan menjual kaos yang dibazarkan setiap hari Senin. Meski begitu, sekolah juga membukakan pintu agar siswa berkomunikasi dengan alumni, untuk membantu persiapan acara.


Inovasi dalam setiap agenda sekolah dilakukan agar tak berkesan itu-itu saja. Pada acara Bedhol Desa misalnya, bila dulunya siswa diajak untuk membantu keluarga prasejahtera, namun kini konsep diganti.

“Kami ingin mengajak anak-anak ke Dampit dan membuat suatu konsep desa wisata di sana. Dari ide anak-anaklah nanti kami upayakan agar terwujud, terlebih keindahan dan kekayaan alamnya sudah sangat potensial,” sambungnya.

Dengan bedhol desa yang akan dilakukan oleh SMAN 3 yang akan datang, diharapkan dapat memunculkan desa wisata baru di Malang dalam konsep kekinian mengingat idenya digagas oleh para generasi muda.

Agar program sekolah tetap mengalami kebaruan, ide siswa perlu digelorakan. Untuk itu, dia dan tim mengaku terus belajar untuk berkomunikasi pada siswa. Kedekatan terus dibangun. Bahkan, Wawan mengaku mengetahui dengan siapa saja siswanya berpacaran.


Menurutnya, komunikasi adalah kunci penting dalam menjalin hubungan dengan semua pihak. Wawan memberikan contoh sosok Ir. Soekarno yang memiliki kecakapan mengobrol dengan seorang petani meski juga mendapat julukan sebagai pemimpin dunia ketiga. Komunikais inilah yang juga sedang dia tanamkan pada diri siswanya.

“Beberapa saat yang lalu memang terlihat anak-anak sulit untuk berkomunikasi dan untuk menyadarkan mereka, perlu energy dan waktu yang tidak sedikit. Namun pelan-pelan mereka sudah mulai paham,” ujarnya.

Sebelum menjabat sebagai Waka Kuesiswaa, Wawan sempat mendapatkan amanah menjadi koordinator bidang prestasi sehingga tahu banyak arahan yang diperlukan siswanya ketika melakukan konsultasi menuju suatu kejuaraan. Support, motivasi dan pendampingan tak henti dilakukan oleh sekolah.
Beberapa hal yang digagasnya yakni siswa harus memiliki satu ekstrakurikuler yang mengikatnya dalam bentuk penilaian di raport. Tujuannya, agar siswa tidak mudah pindah ke ekstrakurikuler lain sehingga mempermudah kaderisasi dan penilaian di raport.
“Sekolah punya 26 ekstrakurikuler, namun ada satu yang wajib diikuti siswa dan masuk dalam penilaianya sehingga siswa harus serius. Orang tua bertanda tangan dan harus tahu kegiatan siswanya,” ujarnya.
Wawan mengaku sangat menikmati kedekatannya dengan anak-anak hingga kadang tak terasa waktu telah menuju maghrib.
“Saya terus ingin memperbaiki dan memperlancar komunikasi dengan anak-anak. Ruangan ini tidak boleh asing bagi mereka. Lantainya juga dipasang dengan karpet, jadi biarpun sempit, mereka tetap merasa nyaman berada di sini,” sambungnya. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...