Siswa SMKN 9 Malang Rancang Aplikasi untuk Anak, Bermain dan Mengenal Huruf Makin Asik


MELIHAT ketertarikan anak kecil pada permainan digital, empat siswa SMKN 9 Malang terinspirasi membuat sebuah permainan menyenangkan. Adalah Umi Laila, Rani Metivianis, Mita Puspita, dan Nur Hanifah yang memiliki ide membuat permainan untuk anak kecil. Tak hanya berbentuk permainan yang menyenangkan, namun juga dapat mendorong anak-anak belajar mengenal angka dan huruf.
Permainan terlihat menarik dengan animasi menggemaskan dan warna-warna cerah ceria. Permainan tersebut diberi nama A2, yang merupakan singkatan dari angka dan aksara.
“Kendalanya sering sekali error, lalu kami terus perbaiki. Sudah sering sekali kami ingin menyerah, tapi guru terus mendorong. Alhamdulillah dengan bimbingan pak Zohan guru RPL, semuanya bisa teratasi,” sambungnya.


Permainannya bisa dibilang mudah. Pemain harus menggerakkan objek berupa boneka berwarna hijau untuk naik ke kotak-kotak pijakan dengan menekan tombol arah atas, bawah, kiri, maupun kanan. Pijakan-pijakan tersebut mengandung beberapa poin permainan, juga diisi angka atau huruf yang mengeluarkan suara bacaannya ketika boneka mencapai huruf atau angka tersebut.
“Konsepnya belajar sambil bermain. Goal permainan ini kan mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya dari melompati pijakan-pijakan. Nah, di pijakan juga ada beberapa angka dan huruf yang bersuara. Jadi sambil asyik bermain, anak-anak tanpa sadar akan belajar mengenal huruf lewat bunyinya,” kata Umi.

Berbentuk sebuah aplikasi, permainan ini masih dalam tahap uji coba dan belum sampai pada pengujian terhadap anak-anak. Nantinya, permainan ini akan menyasar anak-anak TK karena mereka berada dalam tahap belajar angka dan huruf, namun harus dalam proses yang menyenangkan.

Meski masih dalam permaian level pertama, namun tim berharap dapat mengembangkannya ke level yang lebih tinggi sehingga bisa dimainkan oleh lebih banyak kalangan umur.

“Pengennya nanti ada hitungan angka-angka sederhana seperti perkalian pembagian, jadi ketika sudah di level pertama pengenalan ini, bisa beralih ke level selanjutnya” tutupnya.
Menariknya, selain game yang unik, tim ini terbentuk dengan semangat kebersamaan. Betapa tidak, keempatnya dipersatukan lewat Masa Orientasi Siswa di tahun pertama sekolah. Persahabatan mereka membuahkan sebuah karya. Meski pembuatannya telah dimulai lebih dari satu tahun yang lalu, namun baru dapat diselesaikan tidak lama ini akibat terkendala beberapa hal. (dhewi bayu larasati/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :