Minimalisir Plastik, SMAN 7 Programkan Galonisasi


MALANG –  Predikat sekolah adiwiyata tentu juga dihadirkan dari peran aktif dan ide-ide inovatif dari siswanya. Ecomapping SMAN 7 Malang, sebuah organisasi memecahkan masalah sampah di sekolah, memiliki berbagai program bernafaskan lingkungan yang bisa dianggap jempolan.
Dengan program utama Zero Sampah Plastik, tahun ini digalakkan aksi galonisasi dan tumblerisasi dimana untuk air minum di sekolah, siswa harus membawa botol sendiri dari rumah dan mengisinya dengan air ZAMP dari PDAM yang telah tersedia di sekolah. Sedangkan botol minuman plastik, tahun lalu dimanfaatkan untuk membuat eco-brick.

Botol-botol bekas diisi dengan sampah plastik dengan capaian berat 2.8 ons untuk kemudian dijadikan brick atau tatanan bata dengan menyusunnya secara rapat. Botol yang sebelumnya bening, terlihat berwarna karena terisi oleh sampah plastik yang beraneka rupa.

“Eco-brick ini bisa dipakai untuk dinding suatu bangunan, rencananya juga bisa untuk buat taman eco-brick yang bangunan tamannya memakai botol-botol ini,” ujar salah satu anggota ecomapping,  Davin Gliano Azaria

Ide awalnya, lanjut Davin, botol plastic diisi oleh kain-kain bekas yang tidak lagi terpakai. Namun kendalanya, kain tersebut dapat rapuh dan rusak karena waktu, sehingga dialihkan menggunakan sampah plastic.
Eco-mapping juga memiliki ide lain untuk mengentaskan permasalahan limbah elektronik. Limbah ini membahayakan lingkungan karena dapat memaparkan zat-zat kimia yang terkandung di dalamnya. Solusinya, yakni dengan daur ulang, membuka perangkat dan memisahkan antara komponen yang masih dapat terpakai, atau tidak, Untuk ini, eco-mapping bekerja sama dengan Rafa Jafar, seorang pegiat limbah elektronik di Jakarta.

“Kami kumpulkan limbah-limbah elektronik di sini untuk  kemudian kami salurkan ke Rafa Jafar. Dia sudah terkoneksi dengan pabrik daur ulang limbah elektronik,” imbuhnya.

Menumbuhkan kecintaan pada tanaman juga harus didampingi dengan pengetahuan. Oelah karena itu, digagas pula program barcode-tisasi, yakni pemasangan barcode pada setiap jenis tanaman di sekolah.

“Biasanya siswa jarang ada yang tahu jenis-jenis tanaman, makanya kami buat semacam barcode yang dicetak di kertas, lalu digantung pada tanaman. Ketika discan, akan langsung terhubung ke laman yang memuat keterangan tanaman tersebut,” sambungnya.

Banyak program dan agenda-agenda bertemna lingkungan yang dilakukan oleh eco-mapping. Mereka belajar pengolahan sampah di TPA Talangagung, kunjungan ke BMKG, serta belajar mengenai cuaca dan air hujan. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :