Lima Budayawan Malang Bicara Kebhinnekaan

 
MALANG – Lima budayawan Malang, yaitu Prof. Drs Jati Kusumo, Bsc, Ki Demang (Penggagas Kampung Budaya Polowijen), Aji Prasetyo (Budayawan dan Komika Malang), Yongki Irawan (Pengamat Budaya), dan Redi (penggagas kampong cempluk) tampil memukau dalam Orasi Bakti Bhinneka (OBB) di hadapan ribuan mahasiswa baru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
“Saya berharap mahasiswa FISIP mampu menjadi cikal bakal agen perubahan terhadap kebudayaan di Indonesia, dan saya sangat mengapresiasi sekali terhadap antusiasme mahasiswa baru FISIP UMM 2017 terhadap kegiatan OBB ini,” ungkap Jati Kusumo. 
Redi yang melakukan orasi dengan musikalisasi puisi, membakar semangat para mahasiswa baru FISIP UMM.
“Salah satu yang terpenting dalam merajut kebhinekaan guna Indonesia berkebudayaan adalah gotong royong. Karena gotong royong saja sudah mencakup semua yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia. Seperti perikemanusaiaan, rasa saling toleransi, rasa saling memiliki, dan lain lain. Pemahaman bhineka itu gampang bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari,” tandasnya. 
Redi menambahkan, Indonesia adalah titik centrum peradaban dimana Indonesia lahir karena adanya budaya.
‘’Lawan kelompok yang memecah belah NKRI, karena NKRI adalah harga mati. Ketika tidak mampu untuk melawan kapitalisme, kita bisa menghargai Indonesia ini dengan cara mengapresiasi karya-karya anak bangsa,’’ tambahnya.
Agnina Rahmadinia, humas OBB menjelaskan, kegiatan OBB merupakan konsep baru yang coba disuguhkan oleh panitia Panitia Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (PESMABA) FISIP UMM tahun ini. Tema yang diangkat “Menumbuhkan Karakter Mahasiswa yang Inovatif, Cerdas, dan Tanggap Perubahan dengan Menjunjung Tinggi Nilai-Nilai Kebhinnekaan.” OBB merupakan salah satu rangkaian kegiatan Pra-PESMABA Fakultas pada Senin (28/8/17) lalu.
Kegiatan dimulai pukul 07.00 di Hellypad UMM. Acara ini dibuka dengan sambutan rektor UMM, Drs. Fauzan M.Pd.
‘’Bakti adalah membaktikan diri agar mampu mengaktualisasikan diri. Saya berharap saudara-saudara dalam berbakti harus dimulai dari nilai-nilai religiusitas,” ungkap Fauzan menyemangati 1315 mahasiswa baru FISIP UMM.
Acara dilanjutkan dengan penampilan tari topeng Malangan oleh para penari sanggar milik Ki Demang, Paper Moob FISIP UMM 2017 dan Bendera Merah Putih.
‘’Kita juga melakukan bakti sosial di Desa Tegalgondo. Ada penyerahan secara simbolis tanaman dan vandel kepada kepala desa Tegalgondo. Rangkaian acara ditutup dengan hiburan yang ditampilkan oleh mahasiswa baru FISIP 2017. Ini membuktikan bahwa mahasiswa FISIP tidak hanya terpaku pada kegiatan sosial maupun politik, tapi juga mempunyai minat dan bakat yang beragam,’’ pungkas Agnina.(lim) 

Berita Terkait

Berita Lainnya :