Belajar di Luar Kelas Lebih Ramah Anak

 
MALANG – Bila biasanya di jam pelajaran, siswa belajar dalam bimbingan guru di dalam ruang kelas, maka suasana agak berbeda dijumpai di SMPN 10 Malang, kemarin (7/9). Hampir semua siswa belajar di luar ruang bersama dengan kelompok dan gurunya. Ada yang belajar permainan tradisional, mengerjakan soal matematika di bawah pohon rindang, atau melabeli tanaman saat mata pelajaran IPA. Memang tidak biasa, namun agaknya pemandangan ini sudah sering terjadi di SMPN 10 Malang.
Oleh karena itu, SMPN 10 Malang ditunjuk sebagai sekolah pilot modeling pembelajaran ramah anak, salah satunya melalui pembelajaran di luar ruang kelas. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komisi Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) bekerja sama dengan Kemendikbud dan Kemenag RI.Pencanangan program ini dilakukan kemarin, dan serentak di 30 negara di seluruh dunia. Di provinsi Jawa Timur sendiri, terdapat tiga sekolah yang ditunjuk dengan SMP 10 sebagai satu-satunya di kota Malang.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Drs. Zubaidah, MM mengatakan, sebagai pemenang sekolah adiwiyata dan sekolah UKS, diharapkan inovasi SMPN 10 Malang tak berhenti sampai disini.
“SMPN 10 Malang ini sangat beruntung karena tidak semua daerah dan sekolah memiliki kesempatan untuk melaksanakan program ini. Saya yakin baik tenaga pendidik maupun pendidikannya pasti bisa, yang penting diniati dengan ibadah,” ujarnya.
Metode belajar luar kelas ini sendiri merupakan bagian dalam program Sekolah Ramah Anak. Di SMPN 10 Malang sendiri, pembelajaran luar sekolah telah kerap dilaksanakan di beberapa mata pelajaran dan materi yang sesuai.
“Misalnya untuk mata pelajaran matematika dengan materi bangun dan ruang menghitung volume tabung, anak-anak diajak keluar kelas yang memungkinkan anak-anak untuk mengamati bentuk tabung dan sebagainya,” ujar Drs. Suyono, Wakahumas SMPN 10 Malang.
Dengan metode belajar yang menyenangkan, siswa menerima pembelajaran dengan suasana gembira sehingga diharapkan materi yang disampaikan dapat lebih terserap. Guru juga dituntut lebih inovasi dalam menyampaikan materi karena tak lagi terpaku pada metode klasikal.
Salma Yulinar, siswa kelas 9 I kemarin terlihat sedang mengerjakan materi matematika di gazebo taman sekolah, bersama dengan teman-temannya. Dengan belajar di taman, membuatnya lebih bisa menikmati jam pelajaran.
“Suasananya berbeda kalau di luar kelas. Lebih fresh, dan juga karena bersama-sama, jadinya lebih asyik dan seru,” ujarnya. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :