Cetak Lulusan Kampus Berkualitas

 
MALANG -   Lucky Nur Rosida dari Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Wisnuwardhana (Unidha) Malang dinobatkan sebagai wisudawan terbaik pada wisuda semester genap tahun akademik 2016/2017 dengan IPK 3.96. Dengan nilai nyaris sempurna itu ditempuh selama delapan semester.
Kesuksesannya tidak hanya di bidang akademi saja, dia juga seorang aktivis kampung yang sukses menjadi wirausahan. Sebelum diwisuda, Lucky telah diterima bekerja di salah satu Kantor Akuntan Publik.
“Setelah tiga bulan Kuliah Kerja Lapang (KKL), satu bulan kemudian saya dipanggil untuk bekerja. Alhamdulillah, tidak perlu mencari kerja lagi setelah diwisuda. Sekarang hanya tinggal menyerahkan skripsi saja,” ujarnya.
Prestasi ini membuktikan Unidha mampu mencetak para lulusannya yang berkualitas. Tak hanya Lucky saja, pada penerimaan PNS Kemenhukam beberapa saat yang lalu, semua pendaftar dari Unidha dinyatakan lolos tahap pertama. Padahal, seleksinya sangat ketat. Sebelumnya, beberapa mahasiswa juga terpilih menjadi jaksa, bekerja di Mahkamah Agung hingga di Kementerian Keuangan.
Unidha tampaknya tak hanya berfokus pada bidang akademik saja. Dalam bidang penelitian, mahasiswa diberikan motivasi secara penuh. Selain menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi, Lucy juga aktif menjadi anggota BEM. Anak bungsu dari empat bersaudara ini juga pernah memperolah dana Dikti melalui PKM-Penelitian mengenai keberadaan Bank Mencit di pasar tradisional.
“Kampus selalu memotivasi kami dan arahan dalam setiap kegiatan. Untuk aktivitas di luar akademik, kami sering diminta untuk tugas keluar sebagai studi banding sehingga bisa melihat bagaimana organisasi di kampus lain,” ungkap anak pasangan Almarhum H. Loekman Hakim dan Nurul Hidayati ini. 
Tak hanya Lucky, inspirasi juga datang dari Moch. Istiajid Eddy Santoso. Di usianya yang ke-71 tahun ini, Istiajid menjadi salah satu wisudawan S1 jurusan ilmu hukum. Sebelumnya, dia telah bergelar professor kedokteran spesialis bedah syaraf. Di tahun 2005, Istiajid menempuh magister hukum. Selanjutnya, dia memperoleh gelar doktor hukum UB bersamaan dengan gelar S1 hukum di Unidha.
“Waktu mendekati pensiun itu saya berpikir kira-kira apakah yang biaa saya lakukan setelah pensiun nanti. Akhirnya saya putuskan untuk mencari kegiatan yang positif dan sesuai dengan hobi saya. Saya memilih jurusan hukum di Unidha karena saya tau rektornya seorang ahli hukum, pasti memiliki jurusan hukum yang bagus,” ujarnya.
Keputusannya memilih jurusan hukum karena melihat banyaknya kasus hukum yang melibatkan tenaga kesehatan, atau yang lebih dikenal dengan istilah mall praktik. (ras/aim)
 

Berita Lainnya :

loading...