SMAN 6 Mengudara di Six Point O FM


 
SETIAP kali jam istirahat kedua berbunyi, siswa SMAN 6 Malang dapat mendengar suara merdu para siswa anggota ekstrakurikuler broadcasting dari speaker di ruang kelas. Selama tiga puluh menit, suara mereka akan mengudara di lingkungan sekolah membacakan titipan salam dari teman, memutarkan lagu sesuai dengan permintaan, dan membacakan tips-tips ala remaja.
″Dalam sehari bisa sampai 50 hingga 100 permintaan lagu yang masuk dari teman-teman. Judul lagunya ditulis di selembar kertas kecil dan dimasukkan ke kotak request. Tapi kami cuman bisa memutar empat sampai lima lagu dalam sehari karena keterbatasan waktu,″  ujar Azimatus Zahro, salah satu penyiar.
Selain karena waktu, tidak semua lagu dapat diputar karena harus memperhatikan konten lagu. Misalnya, permintaan lagu yang mengandung lirik tidak untuk diperdengarkan siswa SMA dan di lingkungan sekolah, tidak akan diputar. Oleh karena, sebelum memutuskan memutar sebuah lagu, mereka harus memahami konten dari lagu tersebut.
″Karena takutnya kalau lagunya nggak sesuai dan guru keberatan, bisa-bisa kami nggak boleh siaran lagi, ″lanjutnya.
Pukul 12.00 WIB, setelah bel istirahat berbunyi, beberapa siswa yang sedang piket hari itu mulai menyiapkan peratalan, diantaranya mic, komputer, dan alat untuk mengontrol suara. Sebagai pembuka, mereka menyebutkan ″six point o fm″ layaknya siaran di radio yang telah memiliki frekuensi. Satu lagu diputar, dilanjutkan dengan pembacaan tips-tips ala remaja.
″Biasanya kami bahas materi tentang cara berpakaian, film yang lagi diputar, atau tempat-tempat yang bagus di Malang. Kami ambil materi dari internet dan pilih yang sesuai dengan minta mayoritas teman-teman, ″ sambung Azimatus.
Untuk lagu, mereka memutarnya dari file yang telah tersimpan di flashdisk, atau memutarnya dari youtube yang dibuka di komputer sekolah. Penyiar juga membacakan titipan salam dan puisi, atau menyampaikan beberapa informasi sekolah.
Tak semua sudut di sekolah akan mendengarkan suara mereka. Speaker untuk musala dan beberapa ruang kelas di dekat musala tidak dinyalakan agar tidak menganggu pelaksanaan ibadah salat dzuhur yang juga dilangsungkan saat jam istirahat kedua.
Digawangi oleh sekitar 35 siswa anggota ekstrakurikuler broadcasting yang semuanya siswa perempuan, kegiatan ini telah aktif berjalan selama kurang lebih satu tahun. Anggota terus saja bertambah dari siswa yang memiliki minat pada ekstrakurikuler broadcasting. Tahun depan, Azimatus berharap mendapatkan ruang khusus untuk siaran, menginta sekarang ini, kegiatan mereka masih dilakukan di ruang Wakahumas.
Banyak hal yang bisa dipetik dengan menjadi penyiar sekolah. Azimatus mengaku, kemampuan berkomunikasinya meningkat pesat karena terbiasa berbicara di depan umum. Selain penyiar sendiri, siswa broadcasting juga belajar skill menjadi master of ceremony, reporter, DJ, fotografi dan videografi.
″Dengan broadcasting ini juga saya ingin belajar lebih, maunya nanti ambil jurusan komunikasi saat kuliah, ″ tutup siswa kelas 12 ini. (ras/oci)

Berita Lainnya :