Pertumbuhan Ekonomi Islam Terhambat Konflik

 
MALANG - Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) menggelar acara International Conference On Islamic Economics and Business. (Iconies) dengan tema Strengthening Global Islamic Financial Through Cross Cultural Management.
Seminar Internasional ini, dihadiri Prof Dr Ullrich Gunther, Leupana University of Leuneburg, Germany, Dr Sulaiman dari Libya, dan Dr H A Muhtadi Ridwan, M.Ag. Sulaiman memberikan pemaparan tentang kondisi ekonomi Islam di era global saat ini yang cenderung menurun karena adanya konflik.
“Ketika nanti menjadi seorang pemimpin harus pandai mengatur sebuah organisasi agar bisa mengatur konflik. Baik konflik dari lingkup terkecil hingga cakupan luas, seperti sektor Negara,” ujarnya.
Ia mengatakan, tidak ada yang akan terhindar dari konflik. Semua pasti akan berkonflik, namun untuk menghindari adanya sebuah konflik diperlukan keterampilan seorang pemimpin dalam mengatasinya, melalui komunikasi.
Sulaiman mengatakan, kunci pertama seorang pemimpin agar berhasil mengatur organisasinya, adalah keterampilan mereka dalam mengelola. Sulaiman yang sudah mengamati dan melakukan studi tentang ekononomi global syariah dibeberapa Negara ini pun ingin agar Indonesia mempunya cikal bakal pemimpin yang bisa mengatasi adanya konflik.
Kunci kedua, adalah  menjadi seorang pemimpin harus mempunyai karakter kepemimpinan yang fleksibel. Dengan adanya pemimpin yang fleksibel, seorang pemimpin tersebut akan mampu membaca suasana dan mampu mengantisipasi adanya konflik.
Menurutnya, antisipasi konflik sangatlah penting. Sebab, antisipasi adalah langkah prefentif untuk menghindari konflik lebih dalam lagi. Ketika sedang mengantisipasi konflik, seorang pemimpin akan berfikir bagaimana mereka mengambil langkah berikutnya.
Sementara itu, Wakil Dekan 1 bidang akademik Dr. Siswanto mengatakan, Cross Cultural mamajemen ini penting diberikan kepada mahasiswa. Sebab, mereka sebagai calon pemimpin dan pengelola institusi harus bisa  membaca perbedaan budaya disetiap tempat yang dipimpin.
Sebab menurutnya, menjadi seorang pemimpin harus dibekali kepekaan terhadap konflik yang bisa memicu kondisi perekonomian. 
“Kalau mereka bekerja, yang menjadi poin utama adalah bagaimana mereka nantinya mengelola sebuah organisasi. Oleh sebab itu, mereka wajib peka dengan konflik. Kuncinya yang tadi telah diungkapkan oleh Dr Sulaiman” pungkasnya. (sin/oci)

Berita Lainnya :