ESDM Ajak Mahasiswa Sadar Energi

 
MALANG – Sebagai penghasil sekaligus konsumen, Indonesia telah mengalami kesenjangan antara jumlah minyak dan gas yang dihasilkan dengan kebutuhan nasional. Dengan target menuju negara industri, maka diperkirakan nilai diantara keduanya akan semakin tinggi dengan posisi kebutuhan jauh di atas jumlah yang bisa disupply.
“Namun itu masih dengan catatan apabila tidak ditemukan titik sumber energy baru. Oleh karena itu, kita semua perlu untuk merubah pola penggunaan, salah satunya dengan energi terbarukan,” ujar Susyanto, SH. M.Hum, Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi dalam Kuliah Umum bertajuk Kebijakan Minyak dan Gas Bumi dalam Mendukung Ketahanan Energi, di Dome UMM.
Beberapa kebijakan baru terkait dengan minyak dan gas di Indonesia, yakni kebijakan BBM Satu Harga yang dimulai dengan beroperasinya 22 titik lembaga penyalur BBM di 14 provinsi, diversifikasi BBM ke gas, dan juga Permen ESDM no. 52/ 2017 terkait dengan revisi bagi hasil gross. 
“Kuliah umum ini memang merupakan program Direktorat untuk memberikan informasi kepada mahasiswa mengenai migas dan kebijakan pemerintah yang sedang berjalan, sehingga harapannya para mahasiswa dapat berkontribusi dengan memberikan masukan dari sisi akademis,” sambungnya.
Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Drs. Fauzan, M.Pd menuturkan, hampir tidak pernah ada pikiran optimis bila berbicara mengenai migas. Sejak bertahun lalu, telah beredar berbagai macam informasi untuk berhati-hati pada keberadan migas di Indonesia.
“Fenomena ini tidak menakut-nakuti, tapi merupakan kondisi riil. Kendaraan bermotor sekarang telah menjadi sebuah budaya,” ujarnya.
Oleh karena itu, sebagai akademisi yang turut bertanggung jawab pada kelangsungan produksi migas, kini pihaknya sedang menggodok suatu sistem pelayanan kampus dengan memodifikasi angkot di Arjosari bagi mahasiswa yang ingin menuju kampus UMM.
“Kami melihat pusat mahasiswa ada di situ, sehingga nantinya mahasiswa bisa naik angkot untuk ke kampus UMM dari terminal Arjosari,” ungkap Fauzan.
Sementara itu, Fakultas Teknik UMM juga telah lama berproses dalam penelitian untuk menghasilkan energi terbarukan, diantaranya sumber penerangan dari matahari atau photovolteik. Dekan Fakultas Teknik, Ir. Sudarman, MT mengungkapkan, di UMM sendiri telah terpasang 30 unit sistem penerangan yang dapat menghemat pengeluaran hingga Rp. 50 juta tiap bulan. Sejak tahun 2007, Fakultas Teknik juga telah melakukan penelitian dari minyak jarak.
“Namun karena scope kita masih kecil, dari biaya sendiri dan karena terkendala regulasi, sehingga prosesnya tersendat,” ujar Sudarman. (ras/oci)

Berita Lainnya :