Ajarkan Nilai Kebersamaan, Siapkan Ragam Permainan Tradisional


SEHARIAN di sekolah dalam program Full Day School kini dijalani anak sejak diberlakukan lima hari kerja. Karena itulah, sekolah terus menghadirkan program inovatif demi membuat siswa tetap semangat seharian di sekolah.
Di SDN Kedungkandang 2, bermain menjadi salah satu kegiatan wajib untuk siswa dalam pelaksanaan Program Pengembangan Karakter (PPK). Bahkan, sekolah telah menyediakan sarana bermain untuk siswanya.Permainan yang disediakan sekolah adalah permainan non elektronik. Itu dilakukan untuk membentuk karakter kuat siswa sejak usia dini.
Permainan non elektronik yang dijadikan sebagai alat misalnya permainan monopoli, ular tangga, dakon, catur dan sebagainya. Guru membebaskan siswanya untuk bermain di sekolah dengan tujuan untuk membentuk karakter yang kompetitif, mempunyai rasa kebersamaan dan kekompakan.
Kepala SDN Kedungkandang 2 Budi Hartono, S.Pd M.M.Pd mengatakan, dalam bermain, siswa harus berkelompok dan bergerombol. Mereka harus membuat regu dalam satu hari dua kali berganti tim. Tujuannya adalah agar siswa tidak bersosialisasi dengan teman yang sama. Permainan ini berdurasi 45 menit dan diawasi oleh guru.
“Usia SD memang seharusnya digunakan untuk bersosialisasi. Apalagi, SD sangat cocok untuk program PPK, sebab pembentukan karakter memang harus dimulai sejak dini,” kata dia.
Ia menerapkan hal tersebut agar siswanya tidak merasa bosan ketika mereka harus melaksanakan Full Day School. Ia mengatakan, sekolah hingga sore hari, dikhawatirkan bisa membuat siswa lelah dan prestasi bisa saja terganggu.
Oleh sebab itu, ia membebaskan guru untuk mengajak siswanya bermain. Yang pasti, dalam satu hari, harus ada perminan yang dilakukan siswa. Permainan yang dilakukan tentu saja permainan berregu atau kelompok. Permainan kelompok, menurutnya memang bisa melatih kepekaan siswa dengan cara bersosialisasi.
Budi berharap, dengan memasukkan program permainan ini dalam kurikulum, siswanya bisa mendapatkan keuntungan. Yakni, siswa bisa melakukan kegiatan yang seharusnya masih bisa dilakukan di usianya. Sehingga tidak meninggalkan budaya bermain tradisional dan ketergantungan dengan gadget. (sin/oci)

Berita Lainnya :

loading...