Siswa SMAN 6 Disiapkan Lulus 2,5 Tahun


MALANG - Sistem Satuan Kredit Semester (SKS) diterapkan di seluruh SMA Negeri di Kota Malang. Karena model ini, sejumlah sekolah akan meluluskan siswa satu semester lebih cepat.
Di SMAN 6 Malang, siswa dengan pola lima semester, kini sedang menunggu ujian nasional (UN) yang rencananya akan dijadwalkan Januari 2018.
“Andaikan rencana pemerintah untuk ujian di semester ganjil terlaksana, berarti Januari akan ada siswa yang mengikuti UN. Rencana tersebut masih digodok,” ungkap Waka Kurikulum SMAN 6 Malang Drs. Punjul Prijono.
Selain itu, lanjutnya, pada pertemuan wakil kepala sekolah dengan Perguruan Tinggi se- Indonesia beberapa waktu yang lalu, melalui koordinatornya di UGM juga menyatakan siap menerima mahasiswa pada semester ganjil.
Pada penerapan SKS, sekolah menerapkan Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM), yang tahun ini diterapkan di seluruh SMAN. Dengan demikian, maka siswa belajar secara mandiri mengerjakan soal yang tertera di modul UKBM. Dengan begitu, siswa dalam satu kelas yang sama, dapat mengerjakan materi yang berbeda. Guru pun hanya berperan sebagai fasilitator.
Di SMAN 6 Malang, siswa juga dilengkapi dengan modul berisi latihan soal tiap bab yang bisa dikerjakan di rumah atau sekolah. Bila telah rampung, siswa dapat meminta kunci jawaban dari guru untuk kemudian dicocokkan, dan dinilai secara mandiri. Karena ulangan dikerjakan online, maka siswa tidak akan bisa berbuat curang.
“Setelah menyelesaikan modul, ulangan siswa dikerjakan secara online jadi bila memang tidak bisa, akan terlihat pada nilai ujiannya. Dengan mengakomodir siswa berdasarkan kecepatan akademik, maka tanggung jawab belajar benar-benar dilimpahkan pada diri siswa sendiri,” imbuhnya.
Terpisah, Waka Kurikulum SMAN 1 Malang Dulari M.Pd menyatakan, penerapan SKS ini antara mudah dan tidak mudah, terlebih dari sisi administrasi. Di SMAN 1 Malang, terdapat dua SKS yang diterapkan yakni SKS sistem lama dan sistem baru.
Di SKS lama yang diperuntukkan bagi kelas 11 dan 12 ini, maka sistem pembelajarannya kontinyu yang dicirikan dengan munculnya dobel seri dalam satu semester. Sedangkan sistem SKS baru yang menggunakan UKBM, apabila siswa tidak dapat menyelesaikan suatu materi dengan nilai sesuai dengan standar kompetensi minimal, maka akan diulang lagi di semester berikutnya. Siswa yang menyelesaikan materi tuntas dalam satu semester akan mendapatkan raport, sedangkan yang tidak tuntas akan menerima Kartu Hasil Studi dari materi yang telah ditempuh.
Dengan perbedaan kecepatan belajar dalam satu kelas, maka siswa akan terkotak-kotak. Sistem pembelajaran klasikal tidak lagi bisa diterapkan.
“Dari situ layanan di dalam kelas lebih condong dalam pelayanan individu. Guru tidak lagi bisa diam, tapi berkeliling di beberapa kelompok, juga harus proaktif karena kebutuhan masing-masing anak yang berbeda,” ujar Dulari. Namun, lanjutnya, ini tentu menarik karena fungsi tutor guru menjadi maksimal. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :