Drone Karya UIN Maliki Berpotensi Dikomersilkan


MALANG – Kecanggihan drone yang dimiliki tim  UIN Malang sempat membuat Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Dr. H. Asman Abnur, S.E., M.Si , terpukau. Pasalnya, drone tersebut dapat mengangkat beban hingga 16 kilogram dalam konfigurasi tertentu.
“Kalau drone tersebut bisa dikomersialkan misalnya untuk mengantarkan paket, tentu lebih bagus lagi. Saya tunggu realisasinya,” ujar Asman beberapa saat lalu saat menjadi pembicara dalam kuliah tamu bertajuk Peran Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi dalam Kedaulatan Pendidikan di UIN Malang, beberapa saat yang lalu.
Drone tersebut pernah menjadi juara pertama dalam kompetisi Informatic and Communication Technologi (ICT)  tingkat nasional yang digelar di UIN Malang 2016 lalu. Rangka drone terbuat dari karbon yang memiliki kekuatan lebih dari besi, namun lebih ringan dari aluminium serta ramah lingkungan. Drone dapat digunakan untuk  pemantauan dari atas. Di luar negeri, juga dimanfaatkan untuk menyiram tanaman.
“Bila di luar negeri, luasan kebun bisa mencapai berhektar-hektar sehingga menggunakan drone agar penyiraman bisa menjangkau seluruh area lahan,” ujar Juniardi Nur Fadila, S.Kom., MT, dosen Teknik Informatika Bidang Multimedia dan Robotika UIN Malang.
Beban yang dibawa drone tergantung oleh konfigurasi baling-baling dan jumlah voltase. Memiliki empat motor penggerak, setiap satu motor drone dapat membawa beban hingga empat kilogram, sehingga apabila empat motor terpasang, maka drone dapat membawa beban hingga mencapai 16 kilogram. Semakin berat beban, maka akan semakin rendah waktu terbang drone.
“Pak Asman kemarin sempat menyarankan, drone tidak hanya difungsikan untuk perekam video saja namun juga untuk mengantar barang karena tidak terganggung oleh lalu lintas, dan dapat menembus gedung yang tinggi, dan bisa dikomersialkan,” ujarnya.
Namun, lanjutnya, masih banyak hal yang perlu dilengkapi mulai dari sistem keamanan, daya angkat hingga waktu terbang, karena hingga saat ini belum ada teknologi baterai yang mampu membawa drone terbang selama satu jam. Masalah ketinggian, drone tim nya dapat terbang hingga ketinggian sampai empat kilometer bila dimaksimalkan.
“Tetapi karena regulasi dari pemerintah, hanya boleh terbang sampai di 1.5 kilometer. Kalau sudah mendapat izin, akan kami tingkatkan lagi performanya. Untuk jangkauannya sekarang ini bisa sekitar satu kilometer, tapi jika dioptimalkan bisa mencapai lima hingga sepuluh meter,” jelasnya.
Beberapa produk teknologi yang berhasil dikembangkan oleh tim yakni robot peraga sholat, beberapa drone yang kemudian dikomersialkan untuk berbagai event, hingga yang sekarang ini sedang dikerjakan yakni proyek printer 3 dimensi. Dengan printer ini, kata Ardi, maka hanya tinggal mendesain suatu barang di komputer kemudian diupload, lalu dicetak. Timnya sangat optimis pada produk ini, mengingat di kota Malang masih jarang pemasaran printer 3D.
Dalam lomba Internet of Things di UIN Makassar beberapa waktu yang lalu, tim mereka juga memenangkan juara pertama untuk lampu lalu lintas fleksibel yang melalui alat pemantauan, dapat mendahulukan nyala lampu hijau pada suatu ruas jalan yang tertentu. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...