Tim Reog UB Juara Umum Festival Reog Ponorogo


MALANG – Tim Reog Ponorogo Universitas Brawijaya berhasil menjadi juara pertama dalam ajang Festival Reog Ponorogo ke-24 beberapa waktu lalu. Kemenangan ini disebut-sebut sebagai kemenangan yang tertunda, karena di dua tahun sebelumnya mereka mendapatkan juara dua.
 “Ketika kami mendapat juara pertama tahun ini, banyak sekali yang mengapresiasi. Bahkan Bupati Ponorogo dan Irjen Pariwisata juga sempat mengatakan UB sebagai universitas non seni, tapi punya komitmen yang besar untuk melestarikan seni budaya khususnya Reog Ponorogo,” ujar Ketua Tim Produksi Reog Ponorogo UB, Muhammad Bayu Aji Pradana.
Tim Reog UB meraih juara umum atas kemenangan di beberapa kategori, diantaranya, penyaji unggulan terbaik, penata tari terbaik atas nama Maulita Mega Untari dari Fakultas Matematika dan IPA, dan penata iringan terbaik atas nama Muhamad Bayu Aji Pradana.
Sementara itu, peserta terdiri dari berbagai tim dari sekolah menengah, yayasan, hingga tim reog Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Jepang dengan kerja sama Kedutaan Besar RI.  
Bayu mengatakan, pesaing terberat menurut perkiraan tim nya adalah tim Pawargo, Persatuan Warga Ponorogo yang tinggal di Jakarta. Tim ini sering menjadi tolak ukur kualitas juara reog. “Track record mereka bagus, rata-rata pemainnya diambil dari Institut Kesenian Jakarta dan mengatasnamakan Pemprov Jakarta sehingga unggul dari segi senioritas. Dukungan moril dan materi untuk Pawargo dari Pemprov juga total. Pawargo adalah momok bagi tim lain,” sambung mahasiswa semester tujuh Fakultas Hukum ini.
Namun ternyata, tim bimbingan Dr. Eng Denny Widyanuriawan, ST., MT ini berhasil mengalahkan Pawargo. Penilaian berasal dari tiga poin, yakni wiroso, wirogo, dan wiromo. Wiroso, menyangkut penjiwaan karakter, wirogo adalah tentang pengaplikasian gerak, sedangkan wirama yakni musik.
Terdiri dari 81 anggota tim, Bayu mengaku telah mempersiapkan gelaran ini sejak bulan Januari lalu. Padahal di ajang tahun 2015 dan 2016 dimana tim nya menjadi juara kedua, mereka hanya berlatih selama satu atau dua bulan saja.
Dia mengatakan mayoritas anggota timnya terdiri dari mahasiswa asal Ponorogo yang memang sejak kecil dididik untuk melestarikan reog Ponorogo.  “Saya sendiri sudah menari sejak kelas empat SD. Ayah saya termasuk satu dari penggagas gerakan warok,”  tuturnya. (ras/udi)

Berita Lainnya :

loading...