Mahasiswa Kedokteran Unisma Ciptakan Pendeteksi Hyperteroid


MALANG – Penyakit Hyperteroid, selama ini belum bisa dideteksi dengan mudah, pasalnya masih banyak dokter atau Rumah Sakit (RS) yang belum mempunyai alat deteksi. Selain itu, harga yang dipatok untuk satu kali pemeriksaan penyakit autoimmune juga cukup mahal, yakni Rp1 juta tiap kali pemeriksaan.
Namun, tiga mahasiswa Universitas Islam Malang (Unisma) berhasil membuat karya inovasi pendeteksi hyperteroid yang diberi nama Tiroidetect. Hasil karya tiga mahasiswa dari Fakultas Kedokteran, yakni Aulia Rahman Andi Satriya, Muhammad Irsyad Nurudin, dan Mega Memory Rahasa Putra ini berhasil mendapatkan dana hibah dari Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).
Alat ini berfungsi seperti testpack. Jika terdeteksi hyperteroid dalam tubuh, alat ini akan menunjukkan dua garis. Namun, jika tidak ada hyperteroid, alat ini akan menunjukkan satu garis. ‘’‘Fungsi dan cara kerjanya memang mirip testpack. Bedanya, kalau testpack deteksi dengan urine, kalau alat ini, dengan darah,” ungkap salah satu anggota kelompok, Muhammad Irsyad.
Alat yang praktis ini mampu mendeteksi dengan cepat hormone Tiroid. Sebelumnya, pemeriksaan hormon tiroid paling cepat membutuhkan waktu 24 jam. Irsyad mengatakan, salah satu ciri penderita kelebihan hormone tiroid adalah suhu badan yang tinggi.
Belakangan ia sering menemukan kasus salah memberi obat pada penderita hypertiroid. Banyak penderita yang melakukan pertolongan pertama dengan memberi obat paracetamol untuk penurun panas. Bahayanya, salah memberi obat dengan paracetamol berdampak pada otak penderita.
 “Saya berharap, melalui alat ini, para penderita gejala Hypertiroid bisa segera mengetahui kandungannya dalam tubuh. Sehingga, orang tidak salah deteksi. Ketika suhu badan tinggi, ada yang sampai diberi paracetamol, sebab dikira flu,” tandasnya.
Alat tersebut, jika dipasarkan nantinya juga mempunyai harga terjangkau, yakni Rp 10 ribu. Komponen pada alat ini antara lain, nitroselulosa dan gold conjugate yang berfungsi untuk mendeteksi hormone tiroid berlebih melalui darah. "Seperti tes gula darah, alat ini mendeteksi lewat darah yang kemudian ditetesi air untuk mempermudah melihat hasilnya," lanjutnya.
Alat buatannya ini masih akan terus dikembangkan. Nantinya, ketika sudah berhasil menyempurnakan, ia akan melakukan uji coba, yang kemudian akan dipatenkan. “Saat ini kami masih belum sampai pada uji coba secara resmi. Dengan uji kalibrasi dan uji efektifitas. Kami baru hanya melakukan uji praktis yang kami coba sendiri,” pungkasnya.  (adv/sin/udi)

Berita Terkait

Berita Lainnya :