Dosen Tersandung Masalah, ADI Siapkan Advokasi

 
MALANG – Peningkatan kualitas dosen melalui penelitian, perlindungan, serta kesejahteraan dosen menjadi isu-isu yang diperhatian oleh Asosiasi Dosen Indonesia (ADI). Dalam hal perlindungan, misalnya, ADI akan memberikan advokasi pada dosen agar dapat melaksanakan tugas secara terlindungi.
“Beberapa waktu yang lalu ada dosen yang ditampar oleh mahasiswanya karena tidak memberikan nilai penuh, dan juga melakukan pengancaman kepada dosen, agar tidak bertindak macam-macam. Setelah ditelusuri, ternyata mahasiswa tersebut belum mengumpulkan tugas sehingga salah satu nilainya kosong,” ujar Ketua umum Majelis Pengurus Pusat ADI, Prof. Dr. Armai Arif MA.
Hal tersebut disampaikan dalam seminar nasional Isu-Isu Kontemporer dalam Upaya Penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, di Aula Pertamina Polinema, kemarin (25/9). Melalui advokasi, ADI juga akan memberikan perlindungan kepada dosen dalam kasus pemecatan tanpa adanya kesalahan dari pihak dosen.Namun, pihaknya juga tak segan-segan untuk memecat yang bersangkutan apabila ditemukan adanya pelanggaran kode etik dosen.
Di seluruh Indonesia, jumlah dosen yang telah terakreditasi sekitar 386 ribu, sedangkan 200 ribu masih belum memperoleh sertifikasi. Dalam bidang kesejahteraan pun, kadang-kadang masih ada dosen yang bergaji di bawah UMR.
“Namun sekarang ini kalau sudah sertifikasi, baik mengajar di negeri ataupun swasta, sudah pasti memperolah tunjangan,” sambungnya.
Dalam hal kualitas, lanjutnya, masih terdapat dosen yang belum sesuai dengan undang-undang dosen yang mensyaratkan dosen harus lulusan S2. Nyatanya, masih banyak dosen yang belum menyelesaikan pendidikan S2 nya.
Ketua ADI wilayah Jawa Timur yang baru saja dilantik, Prof. Dr. H Darsono mengungkapkan untuk kali ini program kerjanya akan mengarah pada kualitas dosen yang akan digodok dalam bentuk pelatihan professional, pelatihan pembuatan jurnal internasional dan mencapai jenjang tertinggi menjadi dosen, yakni guru besar.
“Meskipun syarat menjadi guru besar itu memang berat. Sekarang agak seret bagi perguruan tinggi untuk menghasilkan guru besar yang ditarget sebanyak 10 persen dari dosen di setiap universitas.  Apalagi kadang guru besar sudah tua, jadi ketika ada satu bertambah, ada satu pula berkurang karena meninggal, jadi jumlahnya tidak bertambah,” ujarnya. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :