Tak Wajib Mengajar, Kasek Lebih Fokus

 
MALANG - Kepala SMA Kota Malang menyiapkan diri untuk tidak lagi mengajar di kelas. Hal ini dijalankan setelah turunnya Peraturan Presiden (Perpres) Pasal 54 tahun 2017 tentang dihapusnya kewajiban mengajar bagi kepala sekolah. 
Menurut Sekretaris MKKS SMA Kota Malang Dr Mochammad Sulthon, M.Pd, SMA Kota Malang akan menerapkan Perpes tersebut dalam waktu dekat ini. Itu artinya beban jam mengajar kepala sekolah selama enam jam ditiadakan. 
“Artinya nanti kepala sekolah akan benar-benar menjadi seorang manajer sekolah,” kata Sulthon.
Sebagaimana tercantum dalam PP 19 Tahun 2017 yang menjelaskan ketentuan bahwa guru tidak lagi harus memenuhi kewajiban 24 jam mengajar melainkan diubah menjadi 40 jam kerja dalam seminggu yang terdiri dari beberapa tugas selain tatap muka dengan siswa. Ketentuan tersebut juga berlaku bagi kepala sekolah yang harus memenuhi 40 jam kerja dalam seminggu.
Kepala SMAN 8 Malang mengapresiasi keputusan pemerintah dalam perpres tersebut. Menurutnya, kepala sekolah bisa sepenuhnya melaksanakan tugas tanpa harus terbebani jam mengajar. 
Sulthon mengatakan, walaupun jam kerja kepala sekolah sudah dikurangi, namun tetap saja, beban mengajar membuat seorang kepala sekolah tidak fokus dalam melaksanakan tugasnya untuk memanajerial lembaga dan SDM.
“Tugas kepala sekolah sangat banyak sekali. Mulai dari memonitoring, memanajerial, hingga membuat keputusan. Membuat keputusan itu yang tidak mudah. Karena kami harus menghadiri rapat terlebih dahulu, dengan pihak terkait,” ungkap Shulton.
Sulthon mengatakan, untuk menerapkan peraturan tersebut, saat ini masih memerlukan sosialisasi. Apalagi, kata Shulton, Malang Raya akan menjadi pilot project untuk perpres ini. 
“Malang Raya akan menjadi pilot project oleh kemendikbud, karena itu tentu kami juga memerlukan kesiapan yang matang. Tapi yang jelas akan diterapkan dalam waktu dekat, paling lambat awal 2018,” kata dia. (sin/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :