11 Fotografer Berkisah Tentang Kopi Dampit

 
MALANG - Unit Kegiatan Mahasiswa Jurnalistik dan Fotografi (MHJF) Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) kemarin (25/9) menggelar pameran fotografi dengan tema ‘Secangkir Cerita’. Pameran ini mengangkat keberadaan kopi Dampit melalui fotografi, dimulai dari pembibitan hingga penyajiannya. Setiap proses pengolahan kopi ini disampaikan lewat karya 11 fotografer dalam 85 lembar foto.
“Selain teman-teman fotografer bisa belajar teknik fotografi ketika hunting, kami juga mengangkat tema yang bisa membuat pengunjung pameran tidak cukup dengan melihat tapi belajar juga,” ujar sie acara, Michael Bryan Talit.
Sebagai salah satu minuman yang populer di masyarakat, tak banyak orang yang tahu bagaimana proses  pembibitan kopi, produksi, hingga bisa disajikan. Kopi Dampit sendiri diangkat sebab tren di Kota Malang. Diceritakan Michael, kopi Dampit memiliki cita rasa yang tidak sama seperti kebanyakan kopi lainnya, dengan rasa asam yang lebih tinggi, dan pengolahan yang lebih higienis.
Pengambilan gambar dilakukan di tiga desa produsen kopi di Dampit, kabupaten Malang, yakni desa Sri Mulyo, Sukodono, dan desa Baturetno. Ketiganya sering kali disebut dengan Sri Donoretno atau kopi SDR. Setiap fotografer mendapat bagian untuk memfoto dalam beberapa proses.Namun ketika tugasnya telah rampung, dapat mengambil gambar dari proses lain. Dari 11 fotografer, terkumpul ribuan foto yang kemudian dikuratori dan hanya 85 gambar yang disajikan.
“Kami sebut ini hunting besar karena menjadi agenda terbesar dalam program kerja HMJF, juga yang berbeda tahun ini ada juga para senior HMJF yang ikut bergabung dan karyanya juga ditampilkan di sini,” katanya. Totalitas, para fotografer sampai menginap di desa tersebut untuk mendapatkan karya foto terbaik.
85 foto terbagi dalam 15 tema foto, diantaranya setiap proses pengolahan, perjalanan biji kopi di setiap tingkat kematangan buah kopi, hingga foto edukasi kopi kepada siswa. Di tiga desa tersebut anak-anak telah diperkenalkan mengenai kopi melalui ekstrakurikuler.
Dibuka kemarin, pameran ini akan berlangsung selama tiga hari di lapangan samping gedung rektorat Unikama. Di tanggal 23 dan 24 September lalu, HMJF Unikama juga menggelar karya serupa di Taman Krida Budaya dan mendapatkan antusiasme yang luar biasa dari pengunjung.
“Sampai ada salah satu pemilik tempat ngopi yang ingin membeli karya kami untuk dipajang di café nya,” imbuh mahasiswa jurusan Pendidikan Fisika semester lima ini. (ras/oci)

Berita Lainnya :

loading...