Metode Belajar Bahasa Inggris Perlu Diubah


MALANG - Pola pengajaran guru bahasa Inggris yang selama ini masih berpusat pada guru, nampaknya menjadi salah satu penyebab kurangnya penguasaan siswa dalam berbicara. Bila dibandingkan dengan pelajar luar negeri yang belajar bahasa Indonesia, kemampuan percakapan siswa Indonesia untuk bahasa Inggris, masih jauh tertinggal.
“Contohnya dalam program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), siswa asing belajar selama dua bulan atau 120 jam, tapi sudah fasih berbahasa Indonesia. Namun siswa Indonesia belajar bahasa Ingris sejak SD hingga SMA pun masih belum bisa fasih,” ujar dosen Bahasa Indonesia, Imu Bahasa, dan Sastra Asia Tenggara Arizona State University, Peter Suwarno, Ph.D.
Hal ini lebih karena penekanan berbicara yang kurang pada guru di Indonesia. Sistem pembelajaran yang terkadang masih teacher center atau berpusat pada guru, membuat siswa tidak memiliki kesempatan lebih untuk berlatih komunikasi bahasa asing. Sedangkan dalam proses pembelajaran di DIPA, lebih mengutamakan proses belajar berpusat pada siswa.
Dalam mengajar mahasiswanya belajar bahasa Indonesia misalnya, dia memberikan tugas untuk mengupload video tentang diri mereka di facebook, setiap hari. Topik yang diunggah mengenai keseharian, keluarga, dengan durasi makin panjang setiap harinya.
Dosen yang telah 20 tahun mengajar di Arizona State University ini mengatakan, guru memegang peran penting menentukan metode pembelajaran. Guru dituntut untuk aktif dan inovatif. Selama ini, masih banyak guru yang berpikir bila informasi atau ilmu adalah pengetahuan, bukanlah kecakapan.
“Padahal harusnya setiap kali usai pembelajaran, yang terpenting adalah siswa bisa apa, bukan siswa memahami apa,” sambungnya.
Peter menabahkan, siswa yang aktif dalam kegiatan berbahasa asing, memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan pada mereka yang hanya bergantung pada jam pembelajaran. Conversation club, speech contess, menjadi ajang yang mewadahi sekaligus meningkatkan kemampuan berkomunikasi berbahasa asing siswa.
Salah satu hal yang dapat membantu percepatan pembelajaran, yakni jumlah siswa dalam kelas. Dalam program DIPA, lanjutnya, satu kelas hanya diisi antara enam hinggga sepuluh siswa, sehingga metode komunikatif yang guru lakukan lebih terserap. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...