Garin Nugroho Ajak Tumbuhkan Ruang Seni


MALANG – Geliat seni pertunjukan memerlukan ruang untuk terus tumbuh. Bakat, kreativitas, sumber daya manusia dan keinginan untuk berekspresi anak muda yang luar biasa namun terkekang oleh ruang dapat mematikan produktivitas dalam berkesenian. Untuk itu, sangat diperlukan peran dari sekitar untuk mencarikan ruang tumbuh bagi generasi muda. 
Hal tersebut disampaikan sutradara terkemuka Garin Nugroho dalam Bincang Seni Pertunjukan Indonesia bertema ‘Kembangkan Ide Kreatif menjadi Sebuah Karya’  di Fakultas Sastra UM, kemarin. “Negara memang tertarik dengan kreativitas anak muda, tapi kan tidak semuanya bisa tertampung,” ujarnya.
Ruang tumbuh kreativitas memang mulai nampak. Namun seolah berhentinya regenerasi dari para kreator seni. Percepatan teknologi seperti media sosial, membuat semacam culture shock sehingga regenerasi seakan mengalami kesulitan.
“Untuk itulah diadakan workshop ini yang tugas utamanya untuk merekatkan kembali generasi. Salah satunya yang dilakukan oleh Ratna Rianmtiarno yang menceritakan tentang karya-karyanya 40 tahun yang lalu, jadi akan memotivasi anak muda dan sejarah tidak akan terputus,” paparnya.
Saat ini, lanjutnya, Badan Ekonomi Kratif (Bekraf) lebih tertarik pada seni dengan teknologi tinggi. Padahal, seni tersebut hanya sebagian kecil dari seni kreatif di masyarakat. Pada wilayah tertentu misalnya, seni kerajinan sangat jarang disentuh.
“Contohnya seni kayu, itu jarang sekali disentuh. Seni ludruk juga seakan tidak penting, padahal bisa menghidupi banyak orang. Dangdut bahkan dianggap bukan seni kreatif,” ujarnya.
Untuk saat ini, Garin menilai kota teater masih sangat layak disematkan untuk Jogjakarta. Sedangkan seni tradisi karawitan dimiliki Kota Solo. Namun menurutnya, Surabaya dalam sejarah Republik Indonesia menjadi sumber berbagai pertunjukan komedi stamboel.“Kota Surabaya ini dalam sejarah menjadi daya hidup pertama pertunjukan seni kreasi. Pelabuhan Surabaya dulunya menjadi pintu masuk terbesar dalam seluruh pertunjukan internasional di zaman Hindia Belanda. Seluruh orchestra besar dulu ada di Surabaya, termasuk di Malang,” ujarnya.
Dia menceritakan, gedung-gedung sosial di Malang memiliki nilai warisan yang sangat tinggi. Jawa Timur, umumnya, telah mengalami kemunduran sebagai pusat seni.
“Padahal, ludrukan bisa muncul di Jawa Timur, perkembangan batik juga tumbuh di Jawa timur. Jawa Timur sebagai pusat industri kreatif memiliki kekuatan besar dalam pertumbuhan di negeri ini,” ujarnya. (ras/van)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...