Bina Pembatik Ngawi, Ajarkan Desain hingga Manajemen


MALANG – Kekayaan motif yang dimiliki batik Ngawi melatar belakangi keempat dosen STIE Malangkucecwara dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengembangkan sentra batik Ngawi dalam program Iptek bagi Wilayah (IbW). Bila dulunya 150 hingga 200 orang pembatik  di desa Banyubiru dan Kedunggudel belum memiliki kesejahteraan ekonomi yang optimal, kini tempat tersebut telah menjadi sentra batik dengan gerai-gerai batik yang selalu diburu konsumen.
“Di Ngawi ini terkenal punya banyak pohon bambu, teh jamus, juga dulunya ada penemuan manusia purba di Trinil. Jadi untuk motif batik mengarah pada motif bambu, bunga teh, tulang, dan motif langka lainnya,” ujar ketua tim yang juga dosen STIE Malangkucecwara Uke Prajogo, STP
Memiliki motif yang unik, namun batik Ngawi tak berkembang seperti halnya batik sentra batik Laweyan di Solo. Untuk itu, Uke Prajogo, STP, MM., Dra. Siti Munfaqiroh, MSi., Dr. Dwinita Ariani,MM., ketiganya dosen STIE Malangkucecwara dan Adi Sutanto. MP., dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggagas program pembinaan kelompok pembatik.
Di tahun pertama, Uke berkonsentrasi pada kualitas pengerjaan dan desain batik. Tahun selanjutnya, program pembinaan diarahkan pada kuantitas batik, desain, dan pembuatan produk-produk sampingan. Untuk memasarkan batik, Uke dan tim membina para pembatik mempromosikan produk melalui website.
“Di tahun ketiga, sudah mulai memproduksi busana pria dan wanita untuk berbagai segmen konsumen. Pemasaran ditingkatkan dengan performa website yang lebih tinggi. Sekarang sudah tidak hanya menjual batik saja, tapi juga menjual kawasan sentra sebagai destinasi pariwisata,” sambungnya.
Sebagai sentra wisata, kini sudah banyak pengunjung yang datang. Termasuk wisatawan asing yang juga tertarik dengan produk khas daerah tersebut.
Tak kalah penting, Uke dan tim juga memberikan pembinaan dalam hal managemen, keuangan, dan pemasaran. Pembatik diberikan ilmu terkait dengan laporan keuangan. Selain itu, juga digagas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk menjadikan setra batik sebagai salah satu destinasi pariwisata yang mendapat perhatian dari pemerintah daerah.
Uke mengatakan, dukungan dari pemerintah daerah sangat tinggi. Diantaranya melalui branding Batik Ngawi, mendatangkan desainer ibu kota, pelaksanaan fashion show dengan mengelontorkan dana hingga Rp 500 juta, dan perbaikan jalan menuju sentra. Kini batik menjadi salah satu program Trisula Kabupaten Ngawi bersama dengan pariwisata dan pertaniannya.
“Dari pemerintah daerah sendiri memiliki dua hingga tiga set seragam dari batik Ngawi, dan kalau ada tamu dari luar kota, sekarang diarahkan ke sentra batik untuk pariwisatanya, “ sambungnya. (ras/adv/oci)

Berita Lainnya :