Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa, Kembangkan Potensi Wisata Air Terjun Pengantin


MALANG –  Selama tiga tahun terakhir, desa Argomulyo kecamatan Ngrambe, Ngawi, mengalami perkembangan yang pesat dalam bidang pariwisata. Hal itu berkat keberadaan air terjun pengantin di desa tersebut, dan yang paling penting semangat masyarakat serta tangan dingin para dosen UM dan STIE Malangkucecwara dalam program Iptek Bagi Wilayah serta sinergi dengan program KKN.
Air terjun pengantin berupa dua buah air terjun yang bermuara pada satu lokasi. Yang unik, air tersebut berada di daerah perkampungan dan berdekatan dengan area persawahan yang luas. Namun, untuk sampai ke air terjun tersebut, pengunjung harus melalui jalan berkelok di lereng gunung Lawu. Desa Argomulyo ini sendiri terletak sekitar 35 kilometer dari pusat kota Ngawi.
“Pertama kali saya datang ke sana di tahun 2015 lalu, kawasan tersebut hanya punya fasilitas seadanya berupa jembatan penghubung dari desa. Masyarakat di sana sadar pada potensi wisatanya, punya semangat yang tinggi, namun tidak mengerti apa yang harus mereka lakukan,” kata Dr. Kusubakti Andajani, M.Pd.
Bersama dengan timnya yang beranggotakan dosen UM Dr. yuni Pratiwi, M.Pd, Prof. Dr. Ruminiati, M.Si dan dosen STIE Malangkucecwara Dra. Sri Yati, MM, dilakukan pembinaan masyarakat desa untuk mengembangkan paket wisata air terjun pengantin dan outbound wisata edukasi di area persawahan. Promosi digiatkan melalui pembuatan website. Lambat laut, tempat wisata tersebut berkembang dan menarik perhatian pengunjung.
Jani, panggilan akrab Kusubakti Andajani dan tim menggagas pembuatan tempat foto dengan latar belakang kedua air terjun. Mendapatkan respon yang positif dari pengunjung, kali ini masyarakat berinisiatif membuat banyak tempat foto dengan berbagai pemandangan yang menarik.
“Masyarakat kami berikan pembinaan mengelola homestay, melayani tamu. Kami juga menghubungkan dengan Dinas Pariwisata sehingga akhirnya mereka membantu untuk pembuatan jalan berundak dan fasilitas toilet,” ujarnya.
 Dinas Pendidikan juga diundang untuk menggandeng siswa berwisata di air terjun pengantin pada hari libur sekolah. Jani menambahkan, dua hari yang lalu dirinya sempat dihubungi pemerintah daerah setempat terkait rencana pembangunan lahan parkir dengan biaya Rp. 500 juta mengingat pada libur lebaran beberapa waktu yang lalu, mobil pengunjung terparkir hingga keluar desa.
“Modal dari pengabdian masyarakat adalah semangat dari mereka. Kalau masyarakatnya semangat, kami juga akan semangat,” sambungnya.
Kerja keras Jani dan tim, masyarakat desa Argomulyo dan peran penting pemerintah berbuah manis. Kini, Air Terjun Pengantin dinobatkan sebagai satu dari tujuh destinasi wisata di Kabupaten Ngawi. Sebagai bentuk sinerginya, sebanyak 40 mahasiswa didatangkan untuk melaksanakan program KKN Tematik selama enam minggu, menggiatkan lagi program pengembangan desa wisata melalui pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP) homestay, dan program wisata lainnya.
Tak hanya di Argomulyo, tim juga bergerak di desa Wakah untuk mengembangkan potensi desa wisata petik buah. Diceritakan Jani, setiap rumah di desa Wakah paling tidak memiliki tiga hingga lima pohon rambutan dan durian. Saat panen, mereka menjual buah kepada pembeli dengan sistem ijon, yakni dibeli saat buah masih mentah dan belum dipetik. Akibatnya, satu kilogram rambutan hanya dihargai Rp. 1.500.
“Kemudian kami edukasi mereka dengan memberikan contoh wisata petik buah jeruk di Batu. Mereka tertarik, dan program berjalan lancar pada tahun pertama,” ujarnya.
Namun, musim pancaroba membuat desa Wakah mengalami gagal panen sehingga buah rambutan dan durian tak lagi sebanyak dulu. Namun, Jani dan tim telah memberikan bantuan alat berupa vakum frying pada desa Argomulyo dengan harapan mereka dapat mengambil hasil buah dari desa Wakah. (ras/adv/oci)

Berita Lainnya :