Hanya di Indonesia, Pendidikan Sastra Dipinggirkan


MALANG – Guru di sekolah memiliki peran yang besar dalam mengajarkan sastra Indonesia. Namun kenyataannya, sekarang ini pelajaran sastra Indonesia sangat jarang ditemukan di sekolah. Bahkan, Indonesia dapat dikatakan sebagai satu-satunya negara modern yang tidak mengajarkan sastra bangsanya sendiri.
Hal tersebut dikatakan oleh Dr. Max Lane, seorang research fellow di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM, penulis, serta penerjemah enam karya Pramodya Ananta Toer, WS. Rendra dan beberapa penulis lainnya.
“Buat saya ini unik, karena selama 50 tahun ini sangat sedikit pengajaran sastra di sekolah. Sementara bila tidak belajar mengenai sastra dan sejarah, lalu bagaimana kebudayaan suatu negara bisa berkembang?” ujarnya saat memberikan materi bedah buku karyanya berjudul Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia, di Fakultas Ilmu Sosial UM,(3/10).
Max melanjutkan, yang dimaksud dengan kebudayaan yakni sastra dan organisasi bangsa Indonesia. Sastra Indonesia, merupakan tulisan yang ditujukan untuk seluruh masyarakat Indonesia dan ditulis dengan bahasa Indonesia. Siswa Indonesia juga diketahui jarang mengerti tentang organisasi pergerakan nasionalisme, salah satunya Sarekat Islam.
“Padahal organisasi Sarekat Islam ini merupakan organisasi modern yang paling besar di dunia. Bahkan ada yang mengatakan anggotanya sebanyak satu juta orang dan ada di seluruh pulau,” ujarnya.
Diceritakan oleh Max, dia merasa prihatin ketika berada di kampus di luar negeri dan mahasiswa Indonesia sering mempromosikan kebudayaan batik, atau angklung. Padahal menurutnya, batik merupakan kebudayaan Jawa yang diwariskan ke Indonesia, dan angklung adalah kebudayaan Sunda.
“Saat saya pertama kali datang ke Indonesia tahun 1969, dosen saya mengatakan bila yang menentukan kebudayaan Indonesia kini adalah wayang. Sekarang, yang menonton wayang semalam suntuk saja sudah bisa dihitung, dan beralih menonton sinetron,” sambungnya.
Dalam bukunya, Max mengatakan salah satu cara untuk mulai mengenali Indonesia yakni dengan membaca Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Diulas oleh New York Times, buku ini akan membawa pembacanya kembali ke hari-hari awal kelahiran nasionalisme Indonesia. Namun yang menarik, dalam karya ini maupun dalam tiga karya Pram lain dalam tetralogi Pulau Buku, sama sekali tidak menyebut nama Indonesia.

“Ini adalah pesan mendasar dari Pram, bahwa Indonesia akan menjadi makluk baru di muka bumi. Kebangkitan yang kemudian berubah menjadi revolusi, adalah suatu proses kreatif yang tadinya absen, lalu menjadi hadir dalam bentuk perjuangan. Indonesia diciptakan oleh sesuatu yang sama sekali baru,” imbuhnya. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...