Didik Calon Tenaga Pelayaran, Adopsi Kurikulum Internasional


MALANG - Jurusan Nautika cukup asing di telinga masyarakat. Jurusan ini ada di SMKN 13 Kota Malang yakni Jurusan Nautika Perkapalan Niaga. Kurikulumnya tidak hanya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saja, tetapi juga dari International Maritime Organization (IMO). Kurikulum internasional yang disusun berdasarkan konvensi Manila 2010. Pada konvensi ini, ditetapkan atuan-aturan berlayar untuk dipatuhi para calon pelayar.
Kurikulum IMO adalah kurikulum pelayaran standar internasional, ada standar khusus yang harus dimiliki para calon pelayar yang mengikuti kurikulum ini. Calon pelayar awalnya harus mempunyai keterampilan berbahasa Inggris.
“Ketika mereka mempunyai ketrampilan Bahasa Inggris, mereka akan lebih mudah menerima materi bahasa inggris praktis berlayar untuk dipergunakan di atas kapal,” terang Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum Any Yustiani M.Pd.
Standar paling mendasar, adalah tinggi badan, perempuan 155, dan pria 160.  Standar fisik lainnya, para calon pelayar harus bisa berenang.
Ia menyampaikan, sekolah ini merupakan satu-satunya sekolah kejuruan di Kota Malang  yang memiliki paket keahlian Nautika Kapal Niaga. Any mebeberkan,  dalam menjalankan program ini terdapat persyaratan khusus yang harus dipenuhi oleh sekolah baik dari segi kurikulum, input peserta didik, tenaga pendidik maupun sarana prasarana.
Any membeberkan, input peserta didik adalah lulusan SMP/MTs yang telah lolos tes dari rumah sakit yang ditunjuk oleh Kementerian Perhubungan yaitu PHC (Port Health Centre) dan memiliki kemampuan yang baik pada mata pelajaran Matematika dan Fisika. Peserta didik menempuh pendidikan selama tiga  tahun di SMK dan setelah lulus melaksanakan praktik berlayar selama  satu  tahun sebelum menempuh uji kompetensi pelaut untuk mendapatkan sertifikat ANT- IV.
“Demikian pula tenaga pendidik harus memiliki kompetensi keahlian sebagai Ahli Nautika III (ANT-III). Demikian pula sarana prasarana untuk mendukung pembelajaran pada program keahlian ini harus memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang ditetapkan oleh Menteri Perhubungan,” katanya.
Selain jurusan unggulan nautika kapal niaga, SMKN 13 mempunyai program berbasis taruna, membuat sekolah ini dituntut untuk mendidik siswa untuk disiplin serta mempunyai budaya militer. Walau budaya militer, namun tidak ada kekerasan.
Any mengungkapkan, untuk program taruna, nantinya siswa yang berhasil lolos pendidikan taruna dan mendapatkan sertifikat, mereka bisa mempergunakan untuk bekal mendaftar sebagai security.
“Jangan salah, security saat ini sedang dalam perkembangan. Security adalah profesi berjasa, yang gajinya sekarang cukup lumayan,” kata Any.
Siswa nantinya selama setahun, akan melakukan  pendidikan rutin dilakukan setiap hari Kamis. Pendidikan yang dilakukan, adalah fisik dan latihan kedisiplinan. Walaupun basis militer, namun mereka tidak diajarkan kekerasan. Hanya mengajarkan kedisiplinan saja. (sinta/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...