Jaringan dan Hoki, Bekal Penting Mencari Kerja


MALANG – Mencari kerja menjadi hal yang mutlak dilakukan setelah lulus dari pendidikan, terlebih bagi mahasiswa bergelar sarjana. Untuk itu, banyak hal yang perlu dipersiapkan dalam menghadapi dunia pekerjaan, dua diantara yang penting yakni adaptasi dan siap ditempatkan di seluruh Indonesia.
“Sudah menjadi hal yang wajar bila saat bekerja mendapatkan teguran dari atasan. Kalau tidak bisa beradaptasi, seminggu saja sudah resign,” ujar Yunaidi Purwanto, Konsultan SDM saat memberikan workshop dalam Job Fair yang diselenggarakan di Universitas Widyagama Malang, (3/10).
Selain itu, biasanya calon pekerja ragu dalam menerima tawaran pekerjaan yang menuntut penempatan di seluruh Indonesia. Menurutnya, orang terdekat kerap menjadi kendala. Padahal penempatan karyawan biasanya berkaitan dengan faktor promosi jabatan. Pekerja dituntut untuk memilih antara jabatan atau gaji, dengan kenyamanan.
“Perusahaan tidak akan menempatkan karyawannya jauh di tengah pelosok hutan. Semua penempatan kerja sudah diperhitungkan dan tidak perlu takut. Terlebih kecanggihan teknologi mempermudah komunikasi,” terangnya.
Bila masih terkekang pada penempatan kerja, maka pencari kerja lulusan S1 dapat dikalahkan oleh lulusan SMK karena mereka dianggap lebih berani menerima tantangan. Diceritakan oleh Yunaidi, siswa SMK yang ingin bekerja di kapal penangkap ikan di luar negeri cukup membayar biaya sekolah sebesar Rp 10 juta untuk mendapatkan kontrak bekerja selama satu tahun dengan gaji perbulan sebesar USD 350 ribu.
Dalam seleksi awal, kini perusahaan sudah tak lagi mempertimbangkan curiculum vitae dan IPK yang dimiliki mahasiswa, namun berfokus pada jawaban saat interview. Namun, pelamar masih harus taat pada spesifikasi yang dibutuhkan. Misalnya, untuk pelamar di perusahaan Nestle, maka surat lamaran harus ditulis dalam bahasa Inggris.
“Di Malang ini, ada sekitar 35 ribu lulusan sarjana, 25 ribu lulusan SMA sederajat setiap tahun, dan gudangnya mahasiswa bergelar cumlaude. Kami sudah sangat sering menerima mahasiswa bergelar S2. Jadi yang terpenting untuk terjun ke dunia kerja adalah siap mental,” sambungnya.
Lulusan juga dituntut untuk mempelajari metode tes yang terbaru. Tes ketahanan kerja seperti tes pauli yang sering digunakan, kini sudah mulai ditinggal dan beralih pada metode Forum Group Discussion. Tes bahasa Inggris yang digunakan juga biasanya tak lagi pada tes Toefl namun bergeser dengan tes Toeic.
“Orang mendapatkan pekerjaan karena dua faktor, yakni jaringan atau hoki. Maka jangan hanya berdiam menunggu kesempatan, tapi bergeraklah,” tutupnya.
Dihadiri oleh 28 perusahaan, Job Fair Universitas Widayagama kemarin banjir peserta. Sebelum para pelamar kerja mendatangi stand perusahaan, mereka diarahkan untuk menerima workshop terkait dengan persiapan kerja selama satu jam. Agar setiap pengunjung mendapatkan kesempatan menerima materi, maka workshop dilakukan dalam beberapa sesi.
Kepala Pusat Pengembangan Karir Universitas Widayagama Malang Dra. Wiwin Purnomowati M.Si mengatakan, meskipun mahasiswa disiapkan untuk menjadi job creator atau pembuat lapangan pekerjaan, namun tak dapat dipungkiri banyak lulusan yang masih ingin menjadi job seeker.
“Karena menjadi wirausaha itu penuh dengan tantangan dan risiko, jadi masih banyak sekali lulusan yang menginginkan kerja ikut perusahaan. Untuk itu kami wadahi dalam job fair ini,” ujarnya.
Job Fair UWG ini masih akan berlangsung hingga hari ini, dihadiri beberapa perusahaan besar diantaranya Nestle, BNI, BCA dan Btpn. Tak hanya diperuntukkan bagi lulusan S1, beberapa perusahaan juga membuka lowongan bagi lulusan SMA sederajat. (ras/oci)

Berita Lainnya :