Pintar, Kursi Roda Bisa Begerak dengan Perintah Suara


MALANG – Untuk membantu mobilitas para disabilitas tingkat rendah hingga tingkat tinggi, grup riset computer vision dari Fakultas Ilmu Komputer UB membuat sebuah kursi roda pintar yang menggunakan lima sensor penggerak. Kursi roda ini dapat digerakkan manual melalui LCD, ponsel, suara, pergerakan kepala, dan human tracking atau mengikuti pergerakan orang di depannya.
Ketua grup, Fitri Utaminingrum, Dr. Eng., S.T, M.T menyatakan, kursi roda ini dapat digunakan untuk pengguna yang mengalami cacat kaki, tangan, bisu, atau bahkan kelumpuhan. Fitur speech recognition atau pengenalan suara dapat digunakan untuk disabilitas pada kaki dan tangan karena bergerak pada perintah suara ‘maju’, ‘mundur’, ‘kanan’, ‘kiri’, dan ‘berhenti’.
“Sedangkan untuk fitur human tracking, kursi roda dapat mengikuti pergerakan orang di depannya. Sehingga, asisten tidak perlu lagi mendorong kursi roda,” ujarnya.
Untuk memudahkan asisten dalam melakukan aktivitas lain, kursi roda juga dilengkapi dengan remote sistem navigasi menggunakan ponsel. Bila asisten ingin memposisikan kursi roda, maka hanya perlu mengontrol melalui ponsel. Fitur pergerakan kepala, lanjutnya, dapat dimanfaatkan untuk disabilitas cacat kaki, tangan dan bisu. Sedangkan bila ingin mengoperasikan kursi roda secara manual, maka dapat mengunakan layar sentuh sebagai pengganti joystick pada kursi roda listrik.
Dengan bahan bakar aki, smart wheelchair menggunakan kursi dari jok mobil untuk memberikan kenyamanan. Ditambah, kursi roda ini dapat diatur dalam posisi tidur. Dibuat sejak enam bulan yang lalu, smart wheelchair merupakan versi kedua sebagai penyempurnaan dari versi pertama.
“Fitur speech recognize sudah bisa dijalankan asalkan tidak bising. Fitur kamera juga bisa dilakukan tapi masih belum akurat karena terkendala cahaya,” kata Dahnial Sauqy, salah satu anggota tim.
Kursi roda dapat menampung beban hingga 100 kilogram, dan dengan mempertahakankan faktor keamanan dan keselamatan, roda-roda kursi dapat berputar pada kecepatan 400 rpm. Namun masih belum dilakukan uji coba kursi roda pada medan tanjakan dan turunan.
Dikatakan Dahnial, dia dan tim berharap dapat memperbaiki fitur pada smart wheelchair untuk kemudian dipublikasikan dalam jurnal internasional. Ke depan, dia juga berharap smart wheelchair dapat masuk ke industri meski saat ini belum ada kerjasama.
“Untuk ke sana, masih perlu perbaikan dari sisi pendanaan. Biaya harus dipangkas dan komponennya mungkin bisa diganti dengan yang lebih efisien,” tutupnya. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...