Pancasila Bergeser Satu Sentimeter Raih Juara


MALANG – Berjudul Satu Sentimeter Pancasila, film pendek karya mahasiswa STMIK Asia mendapatkan juara kedua dalam ajang Festival Film Pendek Mahasiswa yang diadakan oleh Ristekdikti beberapa waktu yang lalu. Tim yang terdiri dari sembilan mahasiswa lintas angkatan ini tak menyangka dapat menyabet juara, mengingat film hanya dipersiapkan selama tiga minggu dan dikirimkan sehari sebelum tenggat waktu.
“Begitu mendapat undangan lomba, saya segera memilih mahasiswa terbaik, yakni Rengga sebagai sutradara dan Kumara sebagai teknis. Dengan persiapan yang mepet, kami tidak mau berharap banyak. Selesai mengirim, trus dilupakan agar tidak kecewa,” ujar Kepala Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) STMIK Asia, Handry Rochmat Dwi Happy, (4/10). Tim film terdiri dari sembilan mahasiswa DKV lintas angkatan, yakni Rengga Eka Satria Zulkarnaen, Teddy tri Murdianto, Vany Restyana, Hidayah Maulidiyanur, Andreas Yoga Christianto, Deril Arga Sanders, Rama Wijaksana, Ahmad Kodrat , dan Kumara Forest Himawan.
Satu bulan kemudian, tim mendapatkan informasi bila karya mereka lolos dalam 16 besar dari 71 judul film yang dikirimkan oleh 55 perguruan tinggi se- Indonesia. Diseleksi oleh juri dari Institut Kesenian Jakarta, film berjudul Satu sentimeter Pancasila ini lolos menjadi juara kedua.
Film berdurasi lima menit itu bercerita tentang pergeseran nilai-nilai pancasila, melalui diskriminasi yang dialami oleh mahasiswa dari wilayah Indonesia timur saat berkuliah di Malang. Elfinus diceritakan harus membayar biaya naik angkot sebesar Rp 50 ribu, tidak diterima di beberapa indekos, dan dibully teman-teman sekelasnya akibat perbedaan bahasa.
Namun setelah tampilan layar hitam di layar, penonton disuguhi adegan yang hampir serupa, namun dengan jalan cerita yang berbeda. Dalam adegan pengulangan, Elfinus hanya membayar angkot sebesar Rp. 4 ribu, diterima dengan hangat di indekos, dan mendapatkan perlakuan menyenangkan dari teman-teman sekelasnya.
“Kami menunjukkan keadaan yang sebenarnya pada adegan pertama, lalu menunjukkan bagaimana keadaan yang seharusnya dalam adegan selanjutnya. Kami ingin patahkan apa yang sebenarnya terjadi dengan menunjukkan ini lho yang seharusnya,” ujarnya.
Sekarang ini, lanjutnya, pancasila sekarang telah bergeser sebanyak satu sentimeter sehingga sering muncul keegosian, dan perselisihan akibat perbedaan suku, daerah, politik dan agama.
“Kalau berputar satu sentimeter saja, sudah seperti ini maka bagaimana bila berputar sebanyak 45 derajat,” imbuhnya.
Melalui film ini, penonton diharapkan dapat lebih menghormati perbedaan keyakinan, suku, ras dan kesenjangan sosial. Karena menurutnya, hal-hal tersebut dapat menjadi jurang besar dan memecah kebhinekaan bila terus dibiarkan.
“Kami tidak ingin menceritakan yang muluk-muluk, sedikit saja namun memberikan pelajaran. Itu cukup pada apa yang kita jumpai di sekitar kita saja,” sambungnya. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :