Pemanfaatan Paten dalam Negeri Terkendala Biaya



MALANG – Meskipun jumlah penemuan dan paten yang dihasilkan oleh akademisi dan industri di Indonesia telah melimpah, namun untuk penerapannya dalam dunia industri masih sangat sedikit. Industri di Indonesia kebanyakan justru menggunakan paten dari luar negeri.
“Karena dari suatu temuan untuk kemudian diterapkan di industri ini prosesnya panjang sekali, mulai dari penanaman modal, sampai untuk menjadi teknologi yang terpercaya itu perlu trial and error yang memerlukan biaya besar,” ujar Direktur Pengelolaan Kekayaan Intelektual Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Dr. Sadjuga MSc pada Seminar Pentingnya Kekayaan Intelektual di Institut Akademik dan Akademisi, kemarin (5/10).
Menurutnya, industri masih berat melaksanakan hal-hal tersebut sehingga kemudian menggunakan teknologi luar negeri yang telah terpercaya, untuk kemudian dihitung berdasarkan untung dan ruginya. Untuk itu, Sadjuga berharap peran pendidikan tinggi dan lembaga penelitian untuk mendorong paten yang dapat diterapkan dalam industri.
Bagi mahasiswa yang melakukan penelitian, lanjutnya, ada kemungkinan untuk dipatenkan meskipun sangat jarang terjadi. Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa tidak bisa berdiri sendiri, namun harus bersama dengan dosen pembimbing.
“Namun karyanya sudah diminta untuk dipublikasikan, dan itu sudah termasuk dalam kekayaan intelektual berupa hak cipta berbentuk publikasi. Itupun kadang-kadang masih kurang mendapat perhatian untuk dipublikasikan di jurnal yang bermutu,” sambungnya.
Ke depan, mahasiswa akan didorong untuk melakukan publikasikan di jurnal-jurnal yang bergengsi. Sedangkan mengenai paten, saat ini snagat jarang mahasiswa yang melakukan penelitian dan berujung diciptakannya paten, mengingat biasanya penelitian  mahasiswa dilakukan dalam kurun waktu sebentar.
“Dalam paten mahasiswa ini memang tidak mudah, maka mereka bekerja sama dengan dosen pembimbing sehingga paten milik dosen pembimbing namun didaftarkan atas nama perguruan tinggi. Namun tidak menutup kemungkinan bila mahasiswa membuat suatu teknologi yang dipatenkan,” imbuh Sadjuga.
Saat ini, lanjutnya, Kekayaan Intelektual yang banyak terdaftar masih berasal dari jurusan eksakta, salah satunya di bidang kesehatan. Di bidang ini, penelitian Indonesia mendapatkan pengakuan dari dunia. Selain itu, bidang penelitian yang maju diantaranya komputer dan keteknikan sementara di bidang sosial, maupun pendidikan, jumlahnya tidak terlalu banyak.
“Menurut saya, ini kemungkinan karena kebiasaan mempublikasikan penelitian itu berasal dari jurusan eksakta. Mereka sudah lebih biasa menulis dan publikasi,” ujarnya. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :