Ma Chung Sosialisasikan Anti Plagiasi



MALANG - Universitas Ma Chung akan memberikan nilai nol bagi mahasiswa yang terbukti melakukan kecurangan akademik, diantaranya plagiasi ataupun mencontek pada saat ujian. Nilai nol tersebut tidak hanya untuk mata kuliah yang diujikan, namun pada semua mata kuliah dalam satu semester tersebut.
“Kalau ada bukti mahasiswa tersebut mencontek, tentu akan ditindaklanjuti. Bila pengawas dan kaprodi sudah tanda tangan, maka nilainya akan nol untuk semua mata kuliah selama satu semester,” ujar Yuswanto, S.Pd., MSA., MCP, Ketua Sentra Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Universitas Ma Chung.
Untuk itu, pihaknya kerap melakukan sosialisasi kepada mahasiswa baru terkait dengan aturan tersebut. Dengan adanya sanksi yang berat, diharapkan dapat mengurangi tingkat kecurangan. Dengan penanaman rasa hormat atas usaha dan kerja keras orang lain sejak dini, diharapkan dapat mencegah adanya kasus plagiasi saat mengerjakan tugas akhir nantinya.
“Mahasiswa sudah mulai dibiasakan untuk berjuang dengan usahanya sendiri, agar nantinya saat mengerjakan tugas akhir tidak mudah mencontek karya orang lain. Karena mencontek itu salah satu tindakan kecil karena kurang rasa menghormati atas kerja keras orang lain,” imbuhnya.
Tak hanya itu, Sentra HKI Universitas Ma Chung juga memberikan sosialisasi kepada mahasiswa universitas lain melalui seminar anti plagiasi. Atas upaya-upaya inilah, Sentra HKI Universitas Ma Chung mendapatkan dana dari Kemenristek Dikti sebesar Rp 72,5 juta untuk melakukan sosialisasi dan brainstorming untuk dosen PTS di Malang Raya dalam mendaftarkan HKI.
“Sepertinya, kami akan menjadi pembina bagi sentra-sentra yang lain mengenai pelatihan, pelayanan dan bagaimana menyeleksi draft,” ujarnya.
Penghargaan ini, lanjutnya, kemungkinan diperoleh karena Universitas Ma Chung memiliki kredibilitas yang baik di tahun lalu dalam pendaftaran HKI, dari beberapa universitas di Kota Malang. Menurut Yuswanto, telah banyak Sentra HKI yang dimiliki oleh universitas di kota Malang. Namun, tak banyak yang memiliki konsultan seperti di Universitas Ma Chung.
“Karena yang berhak menyeleksi draft dan lain-lain itu akuntan, dan tidak semua orang bisa,” imbuhnya. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :